Jalan-jalan ka Baleendah

Siapa yang tidak kenal dengan Baleendah? Begitu pertama kali disebutkan nama ini, pasti semua orang tertuju pada “Banjir di Kampung Cieunteng juga Andir”. Ya, Banjir seolah-olah menjadi trademark yang khusus untuk mengambarkan dan mewakili tempat yang satu ini. Kalau dilihat dari tinjauan sejarah, Baleendah merupakan satu tempat yang telah orientasikan sebagai Ibukota Kabupaten Bandung. Gara-gara banjir tersebut, orientasi indah tersebut tidak seindah nama Baleendah dan Ibukota pun pindah ke tempat yang relatif aman yaitu Soreang. Namun, apakah hanya banjir saja yang bisa menjadi kenangan ketika kita menyebutkan nama Baleendah? Tentu tidak dan jangan seperti itu. Tidak adil rasanya, jika hanya melihat satu tempat dari satu sisi saja. Sebetulnya, ada banyak yang dapat dilihat ketika melewati Baleendah.
Baleendah sendiri merupakan kecamatan di Kabupaten Bandung, yang berbatasan dengan Kec. Ciparay di timur, Kec. Bojong soang di Utara, Kec. Pameungpeuk di barat dan Kec. Arjasari dan Banjaran di selatan. Terdapat 4 kelurahan (Jelekong, Manggahang, Baleendah dan Andir) serta 7 desa (Bojongmanggu, Langonsari, Sukasari, Malakasari, Bojongmalaka, Rancamulya dan Rancamanyar). Jadi apa yang bisa dilihat?diantaranya ada objek fisik alamiah, sejarah dan sosial budaya.

1. Curug Cangkring
Curug Cangkring yang terletak di kampung Cilayung, kelurahan Jelekong Kecamatan Baleendah. Akses menuju curug ini hanya 15 menit perjalanan dari alun-alun Ciparay, dengan menggunakan angkutan kota mengikuti jalan Laswi ke arah kota Bandung. Sampai di pangkalan Ojek SMP PGRI Baleendah, terus berjalan sejauh ± 1,5 Km dengan jalan aspal yang tidak terlalu bagus ke arah selatan, melewati bekas penambangan batu, TPA Jelekong, ladang singkong milik warga. Curug cangkring masih jauh, tapi terdapat view yang sungguh menarik. Pandangan ke arah utara, tepat dimana kota Bandung berada. Nampak terlihat kelokan Ci tarum, seolah saya sedang berdiri di atas bukit batas danau Bandung sebelah selatan.

Jangan membandingkan curug Cangkring ini dengan curug lainnya seperti maribaya, curug dago yang sudah terkenal duluan. Curugnya masih tersembunyi, karena masih harus menuruni bukit yang lumayan terjal sejauh ± 30 m. Mengikuti jalan setapak dan suara gemercik air yang sangat jelas terdengar ditengah kesunyian alam pedesaan.
Curug setinggi ± 25 m, berada pada ketinggian ± 800-900 mdpl dengan debit air yang cukup deras mengalir di atas hamparan andesit yang nampak kehitaman. Curug yang mempunyai empat teras ini nampak indah di antara rimbunnya pohon aren, bambu dan beberapa jenis pohon semak lainnya. Tak ada satupun sampah yang berserakan, kecuali dedaunan yang jatuh ke tanah, membuat curug ini masih terlihat alami dan masih terjaga sangat baik.

2. Situ Sipatahunan
Situ atau dikenal juga dengan danau (Indo,red), merupakan satu bentukkan alam berupa cekungan/basin yang relatif luas dan dapat menampung air dalam jumlah banyak baik dari aliran sungai ataupun dari air hujan. Lokasi Situ Sipatahunan ada di 07O 00’30” LS – 07 O 01’00” LS dan 107O 37’30” BT – 107O 38’00” BT pada ketinggian ± 700 mdpl. Termasuk wilayah kelurahan Baleendah Kec. Baleendah kab. Bandung. Tidak jauh dari tugu Kujang, hanya ± 1 km ke arah timur, situ ini dapat diakses dengan sangat mudah.

Meski tidak begitu dikenal seperti halnya situ Cileunca, situ Patengan dan situ Ciburuy. Situ Sipatahunan ini mempunyai kualitas air yang baik dan berperan penting bagi keseimbangan lingkungan dan daya dukung terhadap kehidupan penduduk di sekitarnya dan dimanfaatkan untuk keperluan air baku, air minum dan irigasi pesawahan. Sekilas ketika melihat situ ini, bisa disimpulkan bahwa “situ dengan keadaan yang baik perlu dipertahankan dan perlu dilestarikan. Keberadaan situ akan terasa sangat penting ketika persediaan air pada saat kemarau menipis.” Alaminya, situ merupakan satu cara alam untuk melaksanakan konservasi sumberdaya air, beda dengan pembuatan DAM/Waduk. Keberadaan situ Sipatahunan ini perlu dijaga dan tetap dipelihara kelestarian serta keseimbangan ekosistem didalamnya. Jangan sampai, situ Sipatahunan ini menjadi situ berikutnya yang akan hilang dan hanya akan meninggalkan nama seiring dengan berjalannya pembangunan daerah.

3. Taman Batu (Pasir paros)
Pasir paros adalah nama sebuah kampung di kelurahan Baleendah yang berada dekat dengan kompleks rumah sakit Al-Ihsan. Sebetulnya, taman batu ini bukanlah taman batu yang terbentuk secara alamiah dari hasil erosi dan sebagainya.tidak seperti taman batu yang ada di puncak pasir pawon di kawasan karst Citatah. Melainkan, lahan bekas penambangan batu yang dibuka pertama kali ketika untuk keperluan kompleks pemerintahan kabupaten Bandung yang sekarang jadi kompleks rumah sakit Al-Ihsan. Begitu informasi yang didapat dari salah seorang warga.

Lahan bekas penambangan batu yang sudah lama ditinggalkan, perlahan mulai menunjukkan hasil recovery. Bekas penambangan mulai tertutupi oleh hijaunya rumput dan terkadang jadi tempat pengembalaan kambing. Selain itu terdapat pula beberapa lubang bekas penambangan yang dimanfaatkan sebagai tempat penampungan air baku dan kolam ikan.
Hanya sebatas taman batu, apa indahnya?sekilas memang tidak seistimewa tempat yang lainnya. Paling tidak, disini punya potensi untuk dijadikan salah satu lokasi untuk kegiatan fotografi dan sebagai media pembelajaran yang murah untuk menunjukkan bahwa “alam memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia”, dan lain sebagainya.

4. Monumen Perjuangan 45 (Tugu kujang)
Ini saatnya untuk belajar sejarah lokal yang tidak didapat di bangku sekolah selama apapun belajar disana. Tidak jauh dari situ Sipatahunan, tepat di perempatan jalan Laswi dengan jalan pasir paros akan nampak bangunan setinggi ± 25 meter berwarna putih dengan ornamen Kujang di puncaknya yang menghadap ke utara. Ya, bangunan itu adalah sebuah monumen perjuangan 45 yang di bangun untuk memperingati perlawanan pejuang lokal dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Warga sekitar menyebutnya dengan sebutan “Tugu kujang”. Bangunan yang diresmikan pada 20 Mei 1975 ini, bertepatan dengan hari kebangkitan nasional ke- 67. Di monumen ini, terdapat sejumlah reilef yang dibuat di dinding. Isinya menceritakan banyak kisah yang terjadi pada masa itu. Namun sayang, tidak ada yang bisa dijadikan informasi

tambahan selain tanggal peresmian dan relief yang menempel di dinding. Karena tidak ada petugas yang bisa dijadikan referensi atau sekedar menjelaskan tentang relief itu. Tugu ini sekarang hanya sebatas bangunan yang hanya nampak gagah terlihat, penuh dengan sampah dan berbagai coretan pengunjung yang belum bisa memaknai keberadaannya dan ramai dikunjungi pada hari minggu saja.

5. Kawasan Seni Jelekong
Siapa yang tidak kenal wayang golek? Pasti semua orang yang tinggal di Bandung dan Jawa barat pada umumnya tahu. Wayang golek adalah salah satu kesenian asli Jawa barat. Jelekong adalah salah satu tempat berkembangnya kesenian ini. selain wayang golek, terdapat pula lukisan, komunitas domba adu dan tentunya kuliner khas seperti kacang tanah dan jagung rebus, semangka yang dijual di pinggir Jalan Laswi.

6. Pasar kaget
Sama halnya dengan pasar dadakan di kawasan GASIBU pada hari minggu. Di kawasan monumen perjuangan 45 dan rumah sakit al ihsan pun berubah menjadi tempat berkumpulnya masyarakat Baleendah dan sekitarnya. Mengisi waktu di minggu pagi, dengan berjualan, olahraga atau hanya sekedar sarapan saja. Pasar ini hanya ada di hari minggu sampai jam 12-an saja.
Keenam objek tadi, memang bukan tempat wisata yang ekslusif yang didukung oleh sarana pendukung lainnya. Tapi, hanyalah objek wisata yang menawarkan sesuatu yang sederhana, namun bernilai pendidikan dan yang pastinya keenam objek tersebut mempunyai ketertarikan (what to see) dan dapat dikunjungi (how to stay). Secara kebetulan, keenam objek tersebut terletak pada satu garis lurus dari mulai Jelekong samping ke pertigaan POM Bensin Rencong.

6 thoughts on “Jalan-jalan ka Baleendah

    1. Terima kasih, telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan kecil yang dibuat. untuk sasakala Baleendah bisa juga untuk di jadikan tulisan selanjutnya. namun, Sasakala/sejarah tentang apa yang dimaksud? dan keterbatasan saya yang lebih melihat satu gejala dari sudut pandang geografi saja. ada saran?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s