Wilayah itu apa?

Tulisan ini sengaja dibuat, untuk menambah rasa ingin tahu tentang WILAYAH dan sekaligus untuk share beberapa pemahaman dangkal tentang WILAYAH itu sendiri.
Emmm, saya bingung harus mulai dari mana?. Ok…ada beberapa contoh sederhana. Pas kita kelas X, waktu belajar geografi tentang pembagian batas wilayah laut. Masih ingat kan!!?. Ada yang disebut dengan “laut teritorial”. Yaitu wilayah laut suatu negara sejauh 12 mil laut, diukur dari garis pantai terluar. Dengan kata lain, dari pantai sampai sejauh 12 mil laut itu adalah luas laut negara yang bersangkutan dan semua sumberdaya alam di dalamnya dapat dimanfaatkan oleh negara itu.
Terus ada lagi. Pas lagi belajar biologi, ada perilaku dari beberapa Primata dan Canidae yang sering menandai daerah kekuasaan dengan air seninya. Hal tersebut dilakukan sebatas untuk menjaga eksistensi keberadaan individu dalam ekosistemnya.
Sampai pada…satu provider seluler, yang akan terus melakukan invasi ke semua pelosok daerah di nusantara. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan marketnya bisa semakin luas dan semakin terdepan dalam pemenuhan kebutuhan telekomunikasi masyarakat.
Terus kalau ini masih bisa dijadikan contoh gak ya?. Satu maskapai penerbangan domestik, terus membuka jalur penerbangan kesemua daerah di Nusantara. Dari daerah yang ramai ke daerah yang terpencil sekalipun.
Dari empat contoh tadi, saya akan coba buatkan visualisasinya.

Gbr.1 jangkauan provider selular dan tujuan penerbangan

Dari visualisasi tersebut, ternyata wilayah itu punya luas, punya arah perkembangan, punya sumber atau inti. Seperti halnya difusi budaya. Akan terus menyebar dan akan terus meluas seiring dengan migrasi manusia dan interaksi manusia di dalamnya.

PEMBAGIAN WILAYAH
Dalam geografi, istilah wilayah sama juga dengan region. Namun, tidak sama halnya dengan area, zone/kawasan dan daerah. Wilayah dapat diartikan sebagai satu tempat dipermukaan bumi dengan ciri khas tertentu dan dapat dibedakan dengan tempat lain disekitarnya.
1. Wilayah dibentuk dari kesamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki dari satu objek, fenomena dipermukaan bumi. Seperti wilayah pertanian lahan basah dan pertanian lahan kering. Sederhana sekali, hanya dengan melihat karakteristik dari pertanian, kita sudah membuat satu regionalisasi tentang pertanian.
2. Wilayah dibentuk dari kesamaan ciri fisik wilayah. Seperti wilayah pantai, dataran rendah, dataran tinggi dan pegunungan. Ciri fisik yang digunakan adalah ketinggian atau topografi.
3. Wilayah dibentuk dari kesamaan penggunaan lahan. Seperti wilayah permukiman dan industri
Dan lain sebagainya… (bersambung).

Bandung-Pangandaran (Jalur 1000 jembatan dan akses bebas hambatan)

Kesempatan mudik (kegiatan pulang ke kampung halaman pada saat libur hati raya) 1431 H dari Bandung ke Pangandaran kali ini adalah sebuah cerita perjalanan yang berbeda. Berbeda dalam hal ini adalah terkait dengan moda transportasi, pemilihan rute/jalur mudik, lokasi dan periode istirahat, sampai pada pertimbangan titik-titik rawan macet yang pastinya tak boleh dilewati, karena dipastikan dapat mengganggu perjalanan.
Perjalanan pun dimulai pada pukul 10:00 dari Pangalengan Kabupaten Bandung dengan menggunakan Vega ZR 2009. Motor jadi pilihan moda transportasi karena dari titik ini, dapat dipastikan tidak ada angkutan yang dapat membawa ke terminal Cicaheum (kota Bandung) secara langsung, dimana satu satunya Bus jurusan Pangandaran biasa ditemui. Tetapi, harus 2-3 kali mengganti angkutan umum dengan lama waktu 2-4 jam. Dengan lama waktu tersebut, sudah terbayang bahwa pada pukul 14:00 baru sampai di Cicaheum tanpa sebuah kepastian akan dapat satu bus tanpa berdesakan dengan kursi yang nyaman. Karena pada musim mudik, tak ada bus yang kosong dan tak berdesakan.
Berdasarkan informasi dari beberapa rekan dan website, bahwa terdapat rute lain yang dapat jadi alternatif. Yaitu menggunakan rute Cisewu-Rancabuaya-Pameungpeuk. Dengan lama waktu tempuh yang dibutuhkan sama dengan rute awal, dapat dipastikan jika tidak ada hambatan berarti bisa sampai di Pameungpeuk pada pukul 17:00 lengkap dengan istirahat sholat makan (ISHOMA) selama 2 jam. Itu berarti harus memutuskan untuk bermalam di Pameungpeuk, (Kota kecil di Selatan Kabupaten Garut ini, merupakan pusat ekonomi, daerah tujuan wisata, maka untuk mencari wisma buat bermalam pun bukan perkara susah.)
Akhirnya rute ini pun akhirnya dipilih, dengan pertimbangan bahwa sepanjang perjalanan akan melewati jalur pegunungan selatan, dengan jalur jalan yang akan silih berganti naik dan turun dengan kemiringan 20-50%, perbedaan elevasi -+ 1100 mdpl (meter dibawah permukaan laut) dari titik awal (Pangalengan)sampai ke Pameungpeuk. Sebagai konsekuensinya, jadi harus pastikan bahwa kondisi rem depan sama belakang juga kinerja kopling masih bagus.
Ok akhirnya perjalanan panjang etape pertama (Pangalengan-Cukul-Cisewu-Rancabuaya-pameungpeuk) sejauh -+160 km pun dimulai tepat pada pukul 10:00. Kota Pangalengan,  di depan kantor KPBS (koperasi Peternak Bandung Selatan) jadi titik awal pemberangkatan, mengambil arah ke kiri mengikuti jalur jalan ke Situ Cileunca dan selepas itu perjalanan menyusuri jalanan aspal dipinggir jurang dengan lereng yang terjal berselimut hamparan perkebunan teh yang hijau menjadi teman diantara kehati-hatian, fokus berkendara, takut dan takjub untuk indahnya lukisan alam yang Sang Pencipta buat.
Perkebunan teh CUKUL pun dilewati, ditandai dengan adanya pabrik pengolahan teh dan salah satu rumah peninggalan seorang Jerman dengan arsitektur khas.
Laju motor pun dibawa untuk menuruni lereng bukit sejauh 500 m dengan kemiringan jalan 35% (Gambar 1) adalah hadiah pertama yang harus dilewati. Jalanan yang tidak terlalu ramai, dengan permukaan yang halus, aspal yang hitam, garis median jalan dan pembatas jalan yang masih terlihat putih serta lebar jalan yang semakin lama semakin berkurang akan terus menemani sampai tiba di Cisewu.

image
Gambar 1
image
Gambar 2
image
Gambar 3

Akhirnya tepat pada pukul 12:30 di atas aliran Ci Sewu waktu istirahat (ISHOMA) pun tiba sambil memperhatikan jalan yang menanjak dengan kemiringan 45% sejauh 200-400 meter. Istirahat dilokasi ini cukup lama -+ 45 menit, sudah termasuk sholat dan makan siang. Sambil ditemani sama pengendara lainnya, yang juga beristirahat hanya sekedar untuk mengumpulkan tenaga, sebelum menaiki tanjakan tersebut (Gambar 3). Pertama kali melihat tanjakan tersebut, perasaan kecut tiba-tiba muncul. Meskipun mungkin bukan yang pertama, tapi berupaya melewatinya dengan mengendarai motor adalah yang pertama. Padahal, tanjakan lainnya seperti Gentong di Tasikmalaya dan Emen di Subang, juga pernah dilewati tanpa masalah yang berarti. Atau mungkin, karena sebelumnya Vega ZR yang dipakai pernah ngadat tidak mau nanjak akibat terlambat mengganti posisi gigi, itu yang membuat nyali berkurang. Di lokasi ini, perasaan iri sempat muncul ketika melihat jernih dan bersihnya aliran air Ci Sewu yang mengalir diantara bebatuan beragam ukuran. Karena sudah pasti, kondisi ini tidak akan pernah dijumpai di Bandung. Hutan yang masih relatif lebat, lahan terbangun masih sedikit, sehingga daur air secara alamiah bisa berlangsung dengan baik.
Perjalanan pun dilanjutkan kembali, dengan perlahan menaiki tanjakan tersebut, sampai titik terdatar dan akhirnya sukses, Vega ZRnya baik-baik saja. Satu persatU kantor KORAMIL, POLSEK dan kelengkapan lainnya yang diperlukan sebuah daerah administratif setingkat Kecamatan sudah tersedia dengan baik. Artinya, tiba sudah di kecamatan Cisewu.
Tepat di ujung sebuah jalan yang menurun bercabang dua, terdapat penunjuk arah yang menunjukkan bahwa arah ke Kecamatan Rancabuaya adalah ke arah kanan dan Kecamatan Bungbulang ke arah kiri. Kemudi pun diarahkan ke kanan, melewati sebagian wilayah dari kecamatan Caringin yang ditandai dengan harumnya bunga cengkeh yang sedang dijemur. Vegetasi pun bergantian dari hutan, bambu, semak belukar, barisan pohon kelapa dan padang rumput yang mengering kekuningan menjadi pengawal sebelum tiba di Kecamatan Rancabuaya. Sampai pada satu titik bukit yang tertinggi, akan nampak di horizon segaris biru dengan buih sebagai tanda bahwa Samudera Hindia sudah dekat, artinya tiba sudah di kecamatan Rancabuaya. Masih di pesisir Rancabuaya tepat pada pukul 14:00, perut pun mulai terasa lapar lagi. Sebetulnya perjalanan bisa di lanjutkan ke arah kiri ke arah timur menuju Kecamatan Pameungpeuk, atau lurus ke arah selatan menuju pelabuhan dan lokasi wisata pantai Rancabuaya yang hanya berjarak 500 meter, tapi rasanya kemudi ingin dibawa ke arah barat atau ke arah kanan menuju Pantai Jayanti, dengan tujuan buat nyari makan siang menjelang sore, syukur-syukur dapat ikan bakar. Hanya 500 meter dari perempatan jalan ke arah barat,kedai penjual bakar ikan pun berhasil dijumpai. Namun sayang, kedai ini tidak sedang jualan dan menu pun berubah pada kedai Baso terenak di pantai ini.

image
Gambar 6
image
Gambar 5
image
Gambar 4
image
Gambar 7

Pada gambar 4,5 dan 6 di atas, adalah satu dari sekian banyak jembatan dengan panjang sama dengan atau bahkan melebihi panjang ukuran lapangan sepak bola yang terbentang diatas aliran sungai yang bermuara di pesisir selatan Jawa barat dari Rancabuaya ke arah Cipatujah di arah paling timur.
Sedikit memberikan sebuah analisa bahwa, di wilayah pesisir dengan muara sungai yang lebar, tidak lantas membuatnya mampu untuk menyimpan sedimentasi dalam jumlah yang banyak. Aliran sungai yang relatif lebih pendek, dengan pola tutupan lahan bervegetasi yang bervariasi dan cenderung acak namun memperlihatkan keteraturan, mungkin jadi penyebab rendahnya sedimentasi di ujung muara sungainya. Topografi perbukitan khas pesisir selatan, dengan ditutupi oleh rapatnya vegetasi berupa semak belukar dan diakhiri dengan pesawahan (Gambar 6 dan 7) juga merupakan faktor lain, kenapa air sungainya masih jernih terlepas dari musim kemarau yang sedang berlangsung. Disini, jernihnya air, sedikitnya pasir membuat bebatuan keras berbagai ukuran menjadi pilihan untuk ditambang.

Building A Reseach Experience for Students in Senior High School

Lupakan dulu sejenak, tentang judul yang sengaja ku tulis dengan bahasa Inggris. Itu, hanya sebatas untuk menunjukan bahwa apa yang kutulis harus berkesan bagi siapa pun yang membacanya.
Memulai sebuah penelitian, bagi seorang siswa sekolah menengah atas (SMA), berarti memulai untuk menumbuhkan minat dan meningkatkan motivasi belajar yang sebenarnya. Karena, dengan penelitian rasa ingin tahu siswa dapat tumbuh dengan subur. Berikut ini adalah beberapa tips, tentang bagaimana sebuah penelitian dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut :
1.  Kenali fenomena geografi disekitar mu
Ok, saya rasa tidaklah sulit untuk melihat, mengalami atau bahkan merasakan fenomena geografi. Karena, fenomena tersebut bukanlah sebuah barang baru. Hanya saja, kita (siswa) belum mempunyai cukup pengetahuan untuk menyebutkan bahwa itu adalah sebuah fenomena geografi.
Sejenak kita lihat, bahwa geografi dibangun oleh lima pilar penting, yaitu atmosfer (udara), litosfer (kulit bumi), antroposfer (manusia), biosfer (flora dan fauna) dan hidrosfer (air). Semuanya itu tergabung ke dalam satu istilah yang kemudian dikenal dengan GEOSFER. Kelima pilar tersebut, yang selanjutnya menjadi topik kajian dari geografi sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

image
Sumber : http://www.kampus-info.com/2012/11/contoh-fenomena-geosfer.html?m=1

Geografi erat kaitannya dengan “bagaimana hubungan manusia dengan alam disekitarnya”. Sehingga, fenomena geografi itu, harus selalu melibatkan manusia sebagai objek dan juga sebagai subjek terhadap alam disekitarnya.
Contoh :
a. Sekolah dan sampah
b. Suhu udara dan keberadaan pepohonan
c. Manusia dan sumber air
d. Penggunaan lahan dan jenis pekerjaan penduduk.
Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah sebuah fenomena geografi, di dalamnya mempunyai sejumlah unsur-unsur yang satu sama lainnya mempunyai keterpautan (hubungan). Seperti halnya, unsur-unsur yang terkait dengan sekolah seperti “letak, kondisi gedung sekolah, jumlah siswa, kondisi sosial ekonomi siswa dan lain sebagainya. Sedangkan sampah, terkait dengan jenis sampah, asal sampah, sifat sampah (terurai, tidak terurai), bernilai ekonomis atau tidak dan lain sebagainya”. Hal ini penting karena, dapat memudahkan siswa untuk belajar membuat pertanyaan penelitian yang disukainya.

2. Belajarlah membuat pertanyaan penelitian, untuk menjawab rasa ingin tahu mu.
Inilah yang menjadi pembeda antara siswa yang harus bertanya dikelas dengan siswa yang “dituntut” bertanya dalam bentuk sebuah kalimat tanya. Tidak ada di dalamnya terkandung unsur malu. Malu diejek sama teman, karena “ah maneh, kitu wae teu nyaho” atau “ah kamu, gitu aja tidak tahu”. Sehingga, siswa terhindar dari rasa direndahkan oleh “peer” atau teman sebayanya. Meskipun, pertanyaan penelitian yang dibuat itu salah, janganlah malu karena disitu ada guru geografi mu yang senantiasa   membimbing mu dan memberikan arahan bagaimana membuat pertanyaan penelitian yang baik dan benar. Berikut adalah tipsnya :
a. Awali setiap pertanyaan dengan menggunakan formula 5W+1H (terkadang beberapa orang yang lain lebih senang menggunakan 4W+1H).
Contoh :
a. What (apa).
Jenis sampah apa yang dominan berada di sekolah?
b. Where (Dimana)
Diruang manakah di sekolah dominan sampah berasal?
c. When (Kapan)
Jika dilihat dari waktunya, kapan populasi sampah bertambah banyak?
d. Why (kenapa)
Kenapa jumlah sampah jenis plastik lebih banyak dari pada jumlah sampah lainnya?
e. How (Bagaimana)
Bagaimana pengelolaan sampah yang baik dan dapat diterapkan disekolah?
Empat pertanyaan di atas, merupakan bentuk pertanyaan sederhana yang sangat mudah dibuat. Sehingga, mereka (siswa) dapat dengan senang hati mencari jawaban dari apa sebelumnya telah mereka tanyakan. Bagaimana membuat pertanyaan penelitian untuk contoh topik b-d?

3. Saatnya untuk mengumpulkan “data penelitian”
Percaya atau tidak, bagian ini adalah tahapan yang paling mengasyikan. Tahu kenapa?, karena kita (saya dan kamu para siswa) sedang dihadapkan pada sebuah “keyakinan” bahwa apa yang sedang dicari akan mampu menjawab semua yang kita tanyakan sebelumnya. Namun terlebih dahulu, kita harus menentukan dulu siapa, apa atau mana yang menjadi populasi dan sampelnya.
Masih terkait dengan sekolah dan sampah. Yang menjadi populasinya ada sekolah dimana kamu belajar dengan keseluruhan siswa dan warga sekolah lainnya termasuk pedagang kantin. Sedangkan yang menjadi sampelnya adalah bisa siswa kelas X, XI atau XII dan ruangan kelas X, XI, atau XII. Pilih salah satu saja jangan semuanya. Karena, penelitian itu melihat sesuatu yang kecil.
Tahapan selanjutnya dari usaha mengumpulkan data adalah kita harus menentukan alat apa yang dipakai buat mendapatkan datanya?. Susah?!!, eits tunggu dulu. Tahapan ini tidaklah susah. Karena kamu sudah melalui tahapan 3 tahapan sebelumnya dengan baik. Kita buat saja beberapa pertanyaan (kuesioner) buat diisi oleh teman-teman mu satu sekolah (ingat satu kelas saja, jangan semuanya). Seperti :
a. Nama :
b. Kelas :
c. Kebiasaan :
1). Mana yang jadi kebiasaan mu ketika jajan :
a). Gak pernah jajan, karena suka bawa bekal dari rumah
b). Suka jajan tapi bawa tupperware, jadi gak usah nyampah
c). Suka jajan tanpa bawa wadah
2). Jajanan apa yang paling disuka?
a). Seblak dalam kemasan stirofoam
b). Mie Bakso
c). Lontong
d). Air kemasan plastik
e). ……lainnya sebutkan
3). Apa yang kamu lakukan dengan kemasan pembungkus makanan yang kamu beli?
a). Buang ke tempat sampah
b). Buang ke kolong meja
c). Buang ke tempat sampah sesuai dengan sifat sampahnya.
Jawaban dari pertanyaan 1),2) dan 3) dapat digunakan untuk menjawab what, where dan how.

4. Saatnya pengolahan data.
Kamu pernah buat tabel dan diagram batang bukan? Atau pastinya kamu pernah dapat materi di mata pelajaran matematika yang membahas mean, median dan modus? Nah, data yang telah terkumpulakan kita buat mean, disajikan dalan tabel dan dibuatkan grafiknya (terserah mau diagram batang, lingkaran atau donat).

image
Sumber: http://tampubolontiaman.blogspot.com/?m=1

5. Ini yang terakhir, Kita buat laporannya. Panduannya ada di buku paketmu, tinggal di baca saja ya!!.

Sekian tulisan tentang “bagaimana sebuah penelitian dapat dilakukan?”, semoga bermanfaat.
Terima kasih.

Langkah-langkah penelitian Geografi di Kurikulum 2013

Apresiasi yang begitu tinggi, ketika mengetahui bahwa telah disahkannya kurikulum baru pada jenjang sekolah dasar dan menengah di Indonesia yang dikenal dengan kurikulum 2013. Apresiasi yang dimaksud adalah ini merupakan kurikulum yang untuk kali ketiga berubah selama periode 2003-2013. Setidaknya itu yang saya alami, tanpa harus melihat sejenak bagaimana perkembangan kurikulum pada jenjang sekolah dasar menengah.

Apresiasi kedua adalah, terkait dengan mata pelajaran di program peminatan Ilmu-ilmu sosial, khususnya pada mata pelajaran Geografi. Bagi ku, geografi merupakan sebuah mata pelajaran yang begitu sangatlah istimewa. Kaya dan luasnya cakupan dari objek studi yang dipelajarinya membuat geografi menjadi sebuah disiplin ilmu yang dapat berkamuplase dengan baik diantara ilmu-ilmu sosial lainnya dan juga dapat melebur diantara kelompok ilmu-ilmu alam. Meski pada kenyataannya, para ahli pendidikan perumus kurikulum di negeri ini masih terlalu senang dengan menempatkan secara eksplisit geografi kedalam kelompok ilmu sosial.

Perlu diketahui, bahwa pada kurikulum 2013, geografi diberi hadiah berupa kenang-kenangan untuk memasukan dua topik “penelitian geografi dan mitigasi bencana” sebagai materi yang harus diajarkan di kelas dan ini terlihat sangatlah menarik.

Topik terkait penelitian geografi dan mitigasi bencana menjadi menu baru yang harus dilahap oleh pengajar kelas X peminatan IPS. Adanya penelitian geografi sama halnya dengan penelitian sosiologi yang lebih dahulu masuk sebagai materi ajar di kelas. Tapi, saya belum sempat melihat struktur materi ajar mata pelajaran lainnya, adakah topik yang sama (penelitian) untuk matematika, ekonomi, fisika?, yang meminta siswanya cakap didalam mengetahui fenomena keilmuan terkait, yang kemudian berusaha memahaminya dengan cara belajar membuat sebuah pertanyaan penelitian, dicarikan data-datanya yang terkait dengan fenomena tersebut, sehingga pada akhirnya dapat diolah dan siswa dapat belajar bagaimana cara menuangkan semua itu di dalam sebuah tulisan yang terstruktur sesuai dengan sistematika pelaporan hasil penelitian yang ada.

Perspektif saya adalah, dengan adanya penelitian geografi siswa diajak untuk aktif dengan cara ilmiah. Bagaimana menghidupkan suasana ilmiah di lingkungan pelajar siswa kelas X?!. Sementara diluar sana, terlalu banyak orang tua yang perhatian, khawatir terhadap apa yang sedang terjadi pada putra-putrinya. Mereka, seolah-olah terlihat melihat putra-putrinya karena banyaknya tugas sekolah yang harus dikerjakan. Ngeri ya!, putra-putrinya yang sekolah orang tuanya yang stress.

Perspektif lain, dapat berkembang dari seorang pengajar geografi di kelas. Secara kultural, mereka telah dibuat terlatih untuk membuat sebuah karya tulis ilmiah. Setidaknya satu kali, pada waktu hendak lulus dari kuliah sebagai sarjana pendidikan. Secara faktual adalah, menulis secara ilmiah bukanlah pekerjaan yang mudah. Mungkin karena ini, kenapa banyak mahasiswa sarjana yang lulusnya susah dan lama.

Guru?, di lingkungan sekolah pasti sedikit banyaknya terkaget-kaget ketika membaca isi dari kurikulum, harus mengajarkan penelitian geografi. Tertujulah seketika, mereka pada sebuah topik penelitian, latar belakang masalah, perumusan persoalan, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian yang mencakup (populasi dan sampel penelitian, lokasi penelitian, teknik sampling dan analisis data), cara mendeskripsikan hasil penelitian dan sampai pada bagaimana pembuatan sebuah kesimpulan dan saran. Lama sudah, tak bersentuhan dengan hal yang seperti itu.

Terlebih untuk penelitian geografi, untuk penelitian tindakan kelas (PTK) saja, jika dilihat dari perannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Sering sekali tidak dilakukan dan sering pula tidak dapat didokumentasikan dalam bentuk pelaporan. Sehingga, saat ini guru dan siswa menjadi sama-sama harus belajar bagaimana melakukan penelitian geografi itu.

Perspektif siswa, mereka akan lebih terlihat asyik. Karena adanya satu hal baru yang dapat me rasa ingin tahu yang begitu besar dari apa yang mereka lihat, rasakan dan dialami. Pertanyaan-pertanyaan mereka, tidak hanya muncul di dalam kelas, tetapi mereka akan coba tuliskan menjadi sebuah laporan. Harapan besarnya adalah di dalam diri siswa, terdapat satu kompetensi baru dan bernilai positif yaitu mampu membuat dokumentasi yang kemudian disajikan dalam bentuk tulisan dengan cara mendeskripsikan apa-apa yang mereka telah ketahui dari satu pertanyaan yang mereka buat sebelumnya.

Siswa diajak untuk kreatif. Ayo tuliskan semua yang kamu lihat, semua yang kamu rasakan, semua yang kamu alami dilingkungan sekolah dan dilingkungan dimana kamu tinggal. Tentunya semua hal yang terkait dengan kegeografian.

Terbayang, pada satu kesempatan disekolah. Seorang guru memberikan sebuah topik penelitian terkait dengan tumbuhan dan suhu lingkungan. Mereka para siswa :
1). Akan terlihat antusias dengan mulai membuat pertanyaan-pertanyaan penelitian. Seperti :
1. Bagaimana suhu udara di tempat terbuka seperti di lapangan terbuka?
2. Bagaimana penyebaran suhu tersebut jika disajikan dalam sebuah peta dan grafik?
2). Untuk datanya, mereka mulai memilih tempat yang berupa tanah lapang, sawah, rumah, gedung, kebun, jalan dan sebagainya.
3). Mereka mulai bereksperimen dengan termometer sebagai alat sederhana, yang dipakai untuk mengetahui suhu udara. Namun jika mungkin memakai alat pengukur radiasi matahari.
4). Hasilnya, mereka coba olah dan dibuatlah deskripsi singkat, padat dan jelas untuk menjelaskan apa yang mereka temui
5)Diakhir, mereka harus dapat menjelaskan apa-apa yang mereka temukan dengan cara mempresentasikan hasil tersebut di depan kelas.

Mantap, bagus dan satu proses pembelajaran yang begitu sangat berkesan. Begitu kaya pengalaman belajar yang bisa mereka dapat. Selamat berjuang, terus belajar selagi mampu, wahai kalian siswa-siswa penerus bangsa.

Oretan waktu mudik

Ok, tiba saatnya melakukan apa yang kebanyakan orang di Indonesia lakukan. Satu kegiatan rutin yang menjadi agenda tahunan para perantau muslim, yang dikenal dengan mudik.
Mudik, ya mudik?!. Ada apa dengan mudik?. Bagi sebagian orang, ini adalah agenda terpenting dari ritual “ramadhan”. Kelewat pentingnya kegiatan ini, bahkan dapat dipersiapkan tH-30 atau H-90. Karena diakhir ramadhan, hampa rasanya jika tak menyempatkan waktu, menyisihkan rupiah untuk sekedar beli tiket dan busana yang masih berlabel “baru”.
Mudik bagi sebagian orang adalah satu bentuk ungkapan rasa syuku pada Alloh SWT, sarana aktualisasi diri dengan me refresh kualitas dari hubungan sosial antara orang tua dengan anak, individu dengan kerabat dan lain sebagainya. Atau, sebatas untuk menunjukan status sosial kepada individu yang lain.
Mudik bagi sebagian orang lain adalah sarana memperbaiki kualitas ekonomi. Coba disimak, biaya transportasi yang harus dikeluarkan harus dibuat “bertambah mahal” karena dipastikan meningkatnya permintaan akan jasa transportasi. Begitu juga dengan konsumsi BBM, rental kendaraan, sampai pada usaha untuk memenuhi kebutuhan pangan pun bertambah. Hebat, itulah diantaranya yang terjadi ketika mudik.
Usilnya adalah, kenapa tak sibuk untuk buat planning seperti mau terawih berapa kali?, tadarusnya mau hatam berapa kali?, mau ngadain kegiatan sosial dimana?, singkatnya buat target apa di ramadhan ini. (He…he nyimpang dikit ke tausiah)
Namun, hal-hal lainnya yang juga terjadi ketika mudik adalah :
1. Disatu perusahaan bis, pihak pengusaha dengan baik hati menyediakan bis dalam jumlah yang lebih banyak. Tetapi, para karyawannya “supir” malah memilih untuk berlibur, ikut mudik juga. Akibatnya, penikmat jasa angkutan bis menumpuk di agen dan terminal. Ini yang hebat, saya membayangkan jika perusahaan bis menerapkan sistem e-ticketing. Bagus lho, jadi tak perlu berdesakan karena pasti dapat tiket.
2. Seperti halnya penikmat jasa kereta. Nyaman sekali mereka!!, tanpa harus desak-desakan, bisa berangkat dengan tempat duduk yang pasti tersedia.
3. Tapi, ini yangtidak enak. Mudik diwaktu ramadhan dengan lalu lintas yang padat, bukanlah satu hal yang mudah dipenuhi. Pengalaman saya, e-ticketing itu sangat membantu, setidaknya waktu bahkan uang bisa lebih hemat. Nah, booking tiket lewat jasa e-ticketing itu menyebalkan juga. Belum tentu setelah dapat kode booking, tiket bisa didapat dengan otomatis pasca pembayaran dilakukan. Seperti halnya ketika mesin ATM yang digunakan buat bayar “gangguan”, rupiah di ATMnya tiba-tiba hilang, atau waktu yang disediakan buat melakukan pembayaran habis. Pada akhirnya cuma bisa senyum. Ayo kita reschedule saja keberangkatannya.

SABANA DI TENGAH BELANTARA TROPIS

            Terdapat hal menarik dari sebuah kenampakan persebaran flora di Indonesia. Yang konon kabarnya, persebaran flora tidak sama dengan persebaran fauna yang salah satunya dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim khususnya curah hujan. Informasi yang didapat, akan nampak seragam. Paling tidak semenjak sekolah menengah pertama sampai yang berkembang di sekolah menengah atas, bahwa persebaran flora di Indonesia sesuai dengan persebaran dan jumlah curah hujan. Kondisi tersebut yang membawa kita pada pemahaman bahwa dengan curah hujan yang relatif sedikit, dengan suhu yang panas, namun tidak terlalu kering untuk berkembangnya gurun pasir. Maka, di kepulauan Nusa Tenggara Timur, terdapat banyak padang rumput atau yang lebih dikenal sebagai sabana tropis. Namun, benarkah hanya ada di Nusa tenggara saja? Bagaimana dengan di daerah lain, apakah mungkin terdapat padang rumput?. Seperti yang terdapat di Taman Nasional Baluran. Tepatnya di Banyuputih, Situbondo Provinsi Jawa timur.  Taman Nasional yang merupakan tempat konservasi Banteng, rusa dan fauna lainnya.

            Seolah terbuai dengan sebuah istilah bahwa kalimantan merupakan paru-paru dunia, pemegang peran penting kestabilan suhu udara global (global climate) dan pulau dengan populasi hutan tropis terluas setelah Brazil. Hal tersebut memberikan sebuah pemahaman bahwa Kalimantan adalah identik dengan hutan tropis. Secara global, dapat dipastikan hutan tropislah yang mendominasi vegetasi utama di Kalimantan. Namun, sebuah ketertarikan untuk mencari, lokal-lokal kecil yang bisa menunjukan adanya sebaran flora yang lain selain hutan tropis di pulau ini. Meskipun, seolah tidak mungkin, tetapi perlu dipahami juga bahwa karakteristik dari kondisi geografis yang sedikit bervariasi dapat memberikan variasi baru dan pola-pola baru pada fenomena yang muncul. Dan, hal tersebut yang memungkinkan di Kalimantan selatan dapat ditemukan sebaran sabana tropis, meskipun tidak seluas yang ada di Nusa tenggara timur.

                Pada akhirnya, kedua pertanyaan di atas dapat dijawab. Sebaran sabana tropis ternyata tidak hanya ada di Nusa tenggara timur saja. Khususnya di Kalimantan, sebaran sabana tropis sebagai vegetasi dominan yang dapat tumbuh terdapat di Lontar kecamatan Pulau Laut Barat, Kabupaten Kota Baru, Pulau Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Seperti yang nampak pada ketiga foto di atas. Foto yang dapat memberikan informasi lain mengenai sebaran flora di kalimantan. Meskipun menunjukan tempat yang berbeda, karena memang di ambil di tempat yang berbeda, tapi masih berada di wilayah yang berdekatan. Hal tersebut, cukup memberikan sebuah bukti bahwa di tengah hutan tropis pun, dapat tumbuh berkembang sabana tropis.

Jika diperhatikan, faktor apa yang dapat mempengaruhi terbentuknya sabana di Kalimantan dan daerah lainnya di Indonesia selain Indonesia?. Faktor curah hujan yang besar mencapai > 2500 mm/tahun menjadi faktor penghambat untuk tumbuhnya sabana tropis. Rata-rata temperatur yang yang mencapai 28O C-32O C pun tidak cukup panas untuk membuat permukaan bumi menjadi kering. Bagaimana dengan variasi topografi?. Jika, merunut pada klasifikasi iklim yang dibuat oleh W. Junghun. Bahwa, pada ketinggian yang lebih dari 2500 mdpl, tidak terdapat lagi tumbuhan budidaya. Pada ketinggian ini hanya terdapat rumput dan lumut saja. dikarenakan suhunya yang berkurang drastis. Sebab, vegetasi rumput merupakan tanaman yang dapat tumbuh di segala bentuk medan dan variasi topografi. Bersama dengan lumut, mereka menjadi tumbuhan perintis yang mengawali suksesi dari suatu ekosistem.

Lontar_Panorama
Sabana tropis di Lontar
sumber : koleksi pribadi (2010)

Lontar_Panorama1
Sabana tropis di Lontar
sumber : koleksi pribadi (2010)

Kemungkinan terakhir adalah adanya peran angin serta site dan location  yang memungkinkan sabana tropis itu dapat tumbuh. Dalam hal ini adalah angin fohn. Adalah istilah untuk menjelaskan angin yang terbentuk di daerah pegunungan atau perbukitan. Angin tersebut, berhembus melewati daerah bayangan hujan (rain shadow), yang berakibat pada berkurangnya pasokan hujan yang turun di daerah tersebut. Sehingga, vegetasi yang tumbuh tidak sebanyak di daerah yang berhasil menangkap hujan lebih banyak.

fohn
proses terbentuknya angin fohn
sumber : http://www.blogs.unpad.ac.id

Lontar sendiri berada di dekat pantai, dan sabana yang dimaksud berada di ketinggian 40 mdpl. Seperti yang diketahui bahwa karakteristik hujan di Indonesia, untuk wilayah sebelah timur akan lebih sedikit menerima hujan di bandingkan dengan wilayah di sebelah barat. Ditambah dengan pengaruh iklim pantai yang membuat sabana dapat tumbuh dengan baik, seperti pada dua gambar di atas, nampak terlihat pantai (selat laut). Pengaruh iklim pantai dan topografi nampaknya lebih mendominasi keberadaan sabana di wilayah Lontar. Meskipun tidak seluas dan se-eksotik di Nusa tenggara Timur, tetapi hal ini menunjukan bahwa adanya variasi geografis yang berpengaruh pada persebaran vegetasi di suatu tempat.

Semoga bermanfaat.

Lampeni dan nama sebuah kampung

Nama-nama tempat dipermukaan bumi, sering sekali menunjukan entitas geografi yang ada di sekitarnya. Apa yang menjadi ciri khas, biasanya muncul sebagai identitas yang digunakan untuk merepresentasikan tempat tersebut dikhalayak.
Seperti halnya, sebuah pohon yang bernama “Lampeni”. disebut juga “jet berry” atau para biologist menyebutnya Ardisia Humilis. Pohon Lampeni ini, pernah jadi inspirasi bagi penduduk terdahulu untuk menamai sebuah kampung yang sekarang dikenal dengan nama desa Cilampeni yang berada di kec. Katapang Kab. Bandung. Pohon yang daun serta buahnya dipercaya sebagai obat dari penyakit tumor, asma dan maag ini dapat juga dipakai sebagai tanaman hias di pekarangan rumah. Pohon yang ku dapat dari EIGER ini, ku dapat gratis setelah penjaga toko menawari “barangkali mau berpartisipasi dalam reboisasi?” akhirnya menghiasi pekarangan ku.

Lampeni
Daun Pohon Lampeni

Tempat-tempat lain yang menggunakan nama pohon sebagai nama tempat sebenarnya banyak. Khususnya di wilayah Jawa barat. Nama-nama seperti CiTarum, CiMareme diambil dari nama pohon. Contoh lainya seperti Sekeloa yang berarti mata air. Nama ini digunakan karena dulunya di tempat tersebut banyak terdapat mata air. Nama tersebut bertahan sampai sekarang. Meskipun hanya sebatas nama yang menjadi kenangan kondisi tempat tersebut beberapa waktu lalu.
Tulisan singkat ini, sedikitnya memberikan pemahaman bahwa ada sebuah cerita yang bisa diketahui dari nama tempat yang digunakan. Di dalamnya terdapat cerita masa lalu dari kehidupan masa lalu yang diawetkan dalam bentuk sebuah nama. Kini, tak banyak yang diketahui. Perubahan dipermukaan bumi tidak hanya memberikan kemajuan bagi kehidupan manusia tapi juga menghilangkan entitas yang seharusya dijaga.

Literasi lingkungan

Satu hubungan yang sangat dinamis antara manusia dan lingkungannya, dapat dilihat dari bagaimana cara mereka hidup bersama, berdampingan dengan semua komponen disekitarnya. Terlalu konseptual memang, padahal pada kenyataannya semua itu tidak demikian adanya. Kemampuan yang dimiliki setiap individu untuk berprilaku baik dalam kesehariannya, dengan menggunakan pemahamannya terhadap kondisi lingkungan itulah yang disebut dengan Literasi lingkungan atau environment literacy.
Literasi lingkungan bukanlah sebuah disiplin ilmu baru atau bahkan sebuah konsep baru dalam mengkaji hubungan manusia terhadap lingkungannya. Ini, merupakan pemikiran yang sederhana dan berangkat dari fisis determinisme, fisis possibilisme atau bahkan pandangan antroposentrisme. Fisis determinisme sendiri merupakan pandangan bahwa alam telah menyediakan semua yang dibutuhkan manusia untuk hidup dan manusia berusaha untuk sejalan dengan kondisi lingkungan yang ada. Dalam hal ini, manusia tidak mempenyai banyak alternatif untuk menentukan perannya terhadap lingkungan dimana dia tinggal. Lain halnya dengan fisis possibilisme. Manusia mempunyai begitu banyak kemungkinan, begitu banyak alternatif untuk meminimalisir kekurangan dari kondisi lingkungan yang ada. Dengan kata lain, manusia bisa berpikir dan berupaya keras bagaimana mengatasi keterbatasan yang alam sediakan.
Literasi lingkungan dapat berupa hal-hal kecil. Seperti :
1. Menyediakan 25% ruang terbuka bervegetasi di rumah. Kenapa demikian ?, dengan adanya lahan terbuka bervegetasi, berarti telah membiarkan air hujan bisa masuk meresap ke dalam tanah, telah memberikan kelangsungan dalam siklus gas terutama oksigen dan karbon dioksida dengan baik.
2. Menyediakan pentilasi yang cukup. Kenapa demikian?, dengan adanya pentilasi, berarti selain terjadi siklus gas terutama oksigen dan karbon dioksida dengan baik. Dan mencegah rumah menjadi tempat yang kumuh dan lembab.
3. Membiarkan cahaya matahari masuk di pagi dan siang hari. Kenapa demikian?, Cahaya matahari berfungsi untuk membunuh bakteri jahat di rumah. Dan rumah jadi gak kumuh tentunya.
4. Mendirikan rumah di tempat yang landai. Kenapa demikian? Pemilik rumah, bisa terhindar dari resiko longsor jika rumahnya dibangun di tempat dengan lereng yang terjal atau miring.
5. Rumah berWC itu sangat lebih baik.

Biodiversity di kaki Gunung Salak

Perjalanan panjang seorang Alfred Wallacea dimasa hidupnya (8 January 1823 – 7 November 1913) meninggalkan sebuah warisan berharga pada perkembangan ilmu pengetahuan. Diantaranya membagi Indonesia ke dalam dua bagian besar persebaran Flora dan Fauna. Perkembangan zaman pada saat itu belum memungkinkan beliau untuk mengcapture apa yang ditemukan menggunakan camera. Tidak seperti apa yang saya lakukan beberapa hari lalu bersama rekan-rekan Garuda Muda penerima Beasiswa LPDP_batch-1 dan Fujifilm Finefix S2980. Berkesempatan trip singkat menuju Kawah Ratu di kaki gunung Salak, desa Pasir reugit yang termasuk kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Begitu banyak keragaman Flora dijumpai dan diantaranya merupakan yang pertama kali ku lihat. Tetapi, mungkin terasa tidak asing bagi para biologist. Namun bagiku ini adalah satu hal yang baru. Berikut diantaranya :

1. Paku-pakuan

Paku
Paku

dan

Pucuk daun paku tiang
Pucuk daun paku tiang

2. Bunga

Bunga liar
Bunga liar

3. Perdu

Bunga Hijau (bukan nama sebenarnya)
Bunga Hijau (bukan nama sebenarnya)

4. Kantung semar

Kantung Semar.
Kantung Semar.

Tumbuhan ini dikenal juga dengan Tropical pitcher plant dan tergolong ke dalam Genus Nepenthes. Tumbuhan ini banyak tersebar di wilayah beriklim tropis. meskipun demikian, persebarannya bisa mencapai Australia dan India. Dengan tinggi bisa mencapai 15-20 m. sama seperti rotan yang atau keluarga liana, tanaman ini beradaptasi dengan cara memanjat tanaman lainnya, walaupun ada beberapa spesies yang tidak memanjat. Bentuknya yang unik yaitu pada ujung daun terdapat sulur yang dapat termodifikasi membentuk kantong yang berfungsi sebagai perangkap yang digunakan untuk memakan mangsanya (misalnya serangga, pacet, anak kodok) yang masuk ke dalam.

5. Pandan

Pandan Gunung
Pandan Gunung

Gak Perlu Judul

Lihat kaki mu?
iya!…kenapa?!
Lihat tangan mu?
iya!…kenapa?!
Pakai telinga mu?
iya!…kenapa?!
Pakai mata mu?
iya!…kenapa?!
dimana masa depanmu?
masih ku kantongin!..
kemana semuanya pergi?
Kaki ku?, Tangan ku? coba lihat?!….semua hilang!!
Mataku?, Hidungku, Telingaku?!….hilang juga!!
hidup mu ?
ga jelas.

=====++(FG)++=====

Hey…
kau bukan mentari dan bukan pula semilir angin yang dapat menyegarkan gerahnya jiwa

kau bukan pula awan yang nampak padat berisi namun hampa saat didekati, walau terkadang hitam dan menakutkan..

kau bukan fatamorgana yang nampak kepanasan, seolah terbakar.

Kau bukan kilatan petir yang saling bersahutan membelah sunyi saat hujan jatuh.

Kau juga bukan persimpangan jalan yang harus memaksaku tuk berhenti sejenak melepas kebingungan, ragu tuk melangkah dan diam sampai mati.

kau…

=====++(FG)++=====

Tak ketik tak ketik…terus ku tekan bergantian papan ketik di hadapan ku..
Tak ketik tak ketik… bergantian abcd efgh yang ku tekan
Tak ketik tak ketik… terus ku ketik
Tak ketik tak ketik… gantian gelas kosong ku isi..
Penuh…ku minum, kosong…ku isi lagi dan perut ku bergetar.

Tak ketik tak ketik…terus ku tekan bergantian papan ketik di hadapan ku..
Tak ketik tak ketik… bergantian abcd efgh yang ku tekan
Tak ketik tak ketik… terus ku ketik

Gantian berdetik jam dinding di larut malam.
sambil bilang, jam…aku belum ngantuk.
eh udah malam…kenapa emangnya? masalah buat lo?…
ha ?!!! jamnya bisa ngomong….

=====++(FG)++=====