“LIO” DIATAS RAPUHNYA TANAH CITARUM (1)

Perjalanan yang singkat ini diawali dengan menyusuri jalan Toha Ramdhan, jalan aspal yang berada tepat di samping pom bensin Ciparay. Jalan tersebut merupakan jalan alternatif yang sering digunakan penduduk yang hendak pergi ke kota Bandung via Ciwastra / Gedebage. Terus menyusuri hijaunya pesawahan yang baru ditanami kembali beberapa bulan sebelumnya. Tibalah disebuah kampong yang bernama “Parigi”. Dikampung inilah semua cerita bermula.

Tepat di atas jembatan yang dibawahnya mengalir sungai Ci Rasea. Salah satu anak sungai yang bermuara di sungai Ci Tarum di Kampung sapan. Memperhatikan kondisi aliran Ci Rasea,dengan aliran yang cukup tenang, debit air yang relative kecil, karena memang saat ini sudah mulai memasuki musim kemarau. Yang saya dapatkan dengan menyusuri sebagian aliran Ci Raesa, ternyata rindangnya greenbelt berupa bamboo yang tumbuh di sepanjang aliran Ci Rasea, tidak dapat melindungi tebing sungai dari gerusan air ketika debit air sungai meningkat. setelah mengetahui keadaan tersebut, rasa penasaran saya bertambah, untuk lebih tahu ada apa di hilir sana?!.

Seperti yang telah di sampaikan sebelumnya, bahwa aliran Ci Rasea bermuara di Ci Tarum. Dengan mengikuti jalan setengah aspal yang menghubungkan kampong Parigi dengan aliran Ci Tarum. Tibalah saya di pertemuan aliran Ci Rasea dengan Ci tarum. Aliran sungai yang cukup tenang, dengan debit air yang tidak terlalu deras, berwarna coklat kehitaman menjadi ciri khas aliran sungai hari itu. Mata saya tertuju pada sebuah bangunan non permanen yang terbuat dari bamboo beratapkan terpal plastic transparan.  Masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah “Lio”. Lio ini merupakan tempat pembuatan batu-bata. Sepanjang saya berjalan menyusuri Ci Tarum, terhitung lebih dari 20 Lio yang ada.

Beberapa pertanyaan pun muncul seketika, setelah saya melihat begitu banyaknya lio, adalah : “Kenapa di sepanjang aliran Ci Tarum banyak terdapat Lio?”, “Kenapa harus di dekat sungai?”, dan seberapa pentingkah keberadaan Lio bagi masyarakat sekitar sungai?”.

Keberadaan Lio sepanjang aliran Ci Tarum, sangatlah beralasan mengingat banyaknya material tanah yang terbawa bersamaan dengan aliran sungai, yang kemudian mengendap dengan kandungan lempung yang sangat tinggi. Endapan tanah yang berada di tebing-tebing sungai, terendapkan dalam waktu yang sangat lama, kemudian ditambang secara sembarangan oleh masyarakat. Kegiatan penambangan tersebut menyisakan lubang persegi yang menganga dan membuat sungai menjadi semakin lebar.

Sebuah Pengantar

Sudah tiga tahun ini geografi ikut menghiasi perjalanan Ujian Nasional (UN) di SMA., perjalanan tersebut penuh dengan cerita yang di awali pada tahun ajaran 2007-2008, diikut sertakannya geografi pada UN begitu mendadak, dan hasilnya pun menunjukkan bahwa geografi menjadi mata uji yang paling banyak ketidaklulusanya. walaupun di dua tahun selanjutnya, persiapan tiap sekolah pastilah lebih baik. OK. lupakan sejenak UN, lewat media ini, saya ingin mencoba memperkenalkan diri/mencoba untuk eksis, dengan menambah pengetahuan, relasi dsb.terutama tentang pengajaran dan pembelajaran geografi di sekolah (SD,SMP dan SMA). Blog ini dibuat, untuk menyampaikan dan atau share sesama guru geografi, dan atau siswa berkenaan dengan materi pelajaran geografi, perangkat pembelajaran, media pembelajaran alat evaluasi dsb. Oleh karena itu besar harapan saya blog ini bisa berkembang dengan bantuan dan sumbangsih pemikiran insan akademis di luar sana.

Hormat Saya,

V_Man