Pesona Curug Cangkring

Di kabupaten Bandung telah ditetapkan beberapa daerah sebagai tujuan wisata. Satu diantaranya adalah curug Cangkring yang terletak di kampung Cilayung, desa/kelurahan Jelekong Kecamatan Baleendah.

Rasa penasaran muncul, ketika tahu tempat tersebut dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Dalam pandangan saya, sebuah daerah tujuan wisata adalah daerah yang harus mempunyai ketertarikan (what to see) dan dapat dikunjungi (how to stay). Pastinya tempat tersebut mempunyai sebuah keindahan. Tahu bahwa tempat itu tidaklah terlalu jauh, saya coba untuk datang dan melihat bagaimana kondisi dari curug Cangkring tersebut. Hanya 15 menit perjalanan dari alun-alun Ciparay, dengan menggunakan angkutan kota mengikuti jalan Laswi ke arah kota Bandung. Sampai di pangkalan Ojek SMP PGRI Baleendah, terus berjalan sejauh ± 1,5 Km dengan jalan aspal yang tidak terlalu bagus ke arah selatan, melewati bekas penambangan batu, TPA Jelekong dan sampailah di kawasan perbukitan yang penuh dengan ladang singkong milik warga. Belum sampai di curug Cangkring, saya sudah disuguhi view yang sungguh menarik. Pandangan ke arah utara, tepat dimana kota Bandung berada. Nampak terlihat kelokan Ci tarum, seolah saya sedang berdiri di atas bukit batas danau Bandung sebelah selatan.

Sejenak terbayang dalam benak saya, curug yang akan saya lihat, mungkinkah seindah curug maribaya, curug dago atau curug-curug lainnya. Curug yang biasanya mempunyai aliran air yang sangat deras, dengan gemuruhnya yang sangat keras dapat memecah kesunyian dari rindangnya pepohonan hutan.

Ya, curugnya masih tersembunyi. Karena saya harus menuruni bukit yang lumayan terjal sejauh ± 30 m. Mengikuti jalan setapak dan suara gemercik air yang sangat jelas terdengar ditengah kesunyian alam pedesaan.

Benar saja!!, saya sampai di curug Cangkring. Namun tidak seperti yang saya harapkan. Curug setinggi ± 25 m, yang mengalir di atas hamparan andesit, dengan empat teras. Kini yang nampak hanya hamparan teras batu saja dengan gemericik air yang tak begitu deras. Jika saja ini adalah musim hujan, pastilah Curug cangkring ini sangatlah indah!.

Curug yang berada pada ketinggian ± 800-900 mdpl, kondisi curugnya masih sangat baik, masih terlindungi oleh rimbunnya pohon aren, bambu dan beberapa jenis pohon semak lainnya Tak ada satupun sampah yang berserakan, kecuali dedaunan yang jatuh ke tanah. Curug cangkring ini letaknya cukup jauh dari keramaian, membuat curug ini masih terlihat alami. Tapi entah bagaimana jadinya jika curug ini ramai dikunjungi dan memang benar jadi salah satu tujuan wisata?.

Curug cangkring punya keindahan, walaupun bukan primadona. Karena itu yang bisa dilihat. Curug tersebut bisa dikunjungi dengan cukup mudah, walaupun tidak ada fasilitas yang bisa di dapat layaknya tempat wisata lain. Seperti halnya tempat parkir dan toilet. Disana hanya ada warung kecil yang menyediakan kebutuhan warga sehari-hari saja.

Setelah saya datang ke curug cangkring, saya berfikir bahwa ” curug ini hanya untuk para penikmat alam saja. Bukan untuk para wisatawan yang haus untuk menikmati dan semangat untuk merusaknya.