Literasi lingkungan

Satu hubungan yang sangat dinamis antara manusia dan lingkungannya, dapat dilihat dari bagaimana cara mereka hidup bersama, berdampingan dengan semua komponen disekitarnya. Terlalu konseptual memang, padahal pada kenyataannya semua itu tidak demikian adanya. Kemampuan yang dimiliki setiap individu untuk berprilaku baik dalam kesehariannya, dengan menggunakan pemahamannya terhadap kondisi lingkungan itulah yang disebut dengan Literasi lingkungan atau environment literacy.
Literasi lingkungan bukanlah sebuah disiplin ilmu baru atau bahkan sebuah konsep baru dalam mengkaji hubungan manusia terhadap lingkungannya. Ini, merupakan pemikiran yang sederhana dan berangkat dari fisis determinisme, fisis possibilisme atau bahkan pandangan antroposentrisme. Fisis determinisme sendiri merupakan pandangan bahwa alam telah menyediakan semua yang dibutuhkan manusia untuk hidup dan manusia berusaha untuk sejalan dengan kondisi lingkungan yang ada. Dalam hal ini, manusia tidak mempenyai banyak alternatif untuk menentukan perannya terhadap lingkungan dimana dia tinggal. Lain halnya dengan fisis possibilisme. Manusia mempunyai begitu banyak kemungkinan, begitu banyak alternatif untuk meminimalisir kekurangan dari kondisi lingkungan yang ada. Dengan kata lain, manusia bisa berpikir dan berupaya keras bagaimana mengatasi keterbatasan yang alam sediakan.
Literasi lingkungan dapat berupa hal-hal kecil. Seperti :
1. Menyediakan 25% ruang terbuka bervegetasi di rumah. Kenapa demikian ?, dengan adanya lahan terbuka bervegetasi, berarti telah membiarkan air hujan bisa masuk meresap ke dalam tanah, telah memberikan kelangsungan dalam siklus gas terutama oksigen dan karbon dioksida dengan baik.
2. Menyediakan pentilasi yang cukup. Kenapa demikian?, dengan adanya pentilasi, berarti selain terjadi siklus gas terutama oksigen dan karbon dioksida dengan baik. Dan mencegah rumah menjadi tempat yang kumuh dan lembab.
3. Membiarkan cahaya matahari masuk di pagi dan siang hari. Kenapa demikian?, Cahaya matahari berfungsi untuk membunuh bakteri jahat di rumah. Dan rumah jadi gak kumuh tentunya.
4. Mendirikan rumah di tempat yang landai. Kenapa demikian? Pemilik rumah, bisa terhindar dari resiko longsor jika rumahnya dibangun di tempat dengan lereng yang terjal atau miring.
5. Rumah berWC itu sangat lebih baik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s