Oretan waktu mudik

Ok, tiba saatnya melakukan apa yang kebanyakan orang di Indonesia lakukan. Satu kegiatan rutin yang menjadi agenda tahunan para perantau muslim, yang dikenal dengan mudik.
Mudik, ya mudik?!. Ada apa dengan mudik?. Bagi sebagian orang, ini adalah agenda terpenting dari ritual “ramadhan”. Kelewat pentingnya kegiatan ini, bahkan dapat dipersiapkan tH-30 atau H-90. Karena diakhir ramadhan, hampa rasanya jika tak menyempatkan waktu, menyisihkan rupiah untuk sekedar beli tiket dan busana yang masih berlabel “baru”.
Mudik bagi sebagian orang adalah satu bentuk ungkapan rasa syuku pada Alloh SWT, sarana aktualisasi diri dengan me refresh kualitas dari hubungan sosial antara orang tua dengan anak, individu dengan kerabat dan lain sebagainya. Atau, sebatas untuk menunjukan status sosial kepada individu yang lain.
Mudik bagi sebagian orang lain adalah sarana memperbaiki kualitas ekonomi. Coba disimak, biaya transportasi yang harus dikeluarkan harus dibuat “bertambah mahal” karena dipastikan meningkatnya permintaan akan jasa transportasi. Begitu juga dengan konsumsi BBM, rental kendaraan, sampai pada usaha untuk memenuhi kebutuhan pangan pun bertambah. Hebat, itulah diantaranya yang terjadi ketika mudik.
Usilnya adalah, kenapa tak sibuk untuk buat planning seperti mau terawih berapa kali?, tadarusnya mau hatam berapa kali?, mau ngadain kegiatan sosial dimana?, singkatnya buat target apa di ramadhan ini. (He…he nyimpang dikit ke tausiah)
Namun, hal-hal lainnya yang juga terjadi ketika mudik adalah :
1. Disatu perusahaan bis, pihak pengusaha dengan baik hati menyediakan bis dalam jumlah yang lebih banyak. Tetapi, para karyawannya “supir” malah memilih untuk berlibur, ikut mudik juga. Akibatnya, penikmat jasa angkutan bis menumpuk di agen dan terminal. Ini yang hebat, saya membayangkan jika perusahaan bis menerapkan sistem e-ticketing. Bagus lho, jadi tak perlu berdesakan karena pasti dapat tiket.
2. Seperti halnya penikmat jasa kereta. Nyaman sekali mereka!!, tanpa harus desak-desakan, bisa berangkat dengan tempat duduk yang pasti tersedia.
3. Tapi, ini yangtidak enak. Mudik diwaktu ramadhan dengan lalu lintas yang padat, bukanlah satu hal yang mudah dipenuhi. Pengalaman saya, e-ticketing itu sangat membantu, setidaknya waktu bahkan uang bisa lebih hemat. Nah, booking tiket lewat jasa e-ticketing itu menyebalkan juga. Belum tentu setelah dapat kode booking, tiket bisa didapat dengan otomatis pasca pembayaran dilakukan. Seperti halnya ketika mesin ATM yang digunakan buat bayar “gangguan”, rupiah di ATMnya tiba-tiba hilang, atau waktu yang disediakan buat melakukan pembayaran habis. Pada akhirnya cuma bisa senyum. Ayo kita reschedule saja keberangkatannya.