Langkah-langkah penelitian Geografi di Kurikulum 2013

Apresiasi yang begitu tinggi, ketika mengetahui bahwa telah disahkannya kurikulum baru pada jenjang sekolah dasar dan menengah di Indonesia yang dikenal dengan kurikulum 2013. Apresiasi yang dimaksud adalah ini merupakan kurikulum yang untuk kali ketiga berubah selama periode 2003-2013. Setidaknya itu yang saya alami, tanpa harus melihat sejenak bagaimana perkembangan kurikulum pada jenjang sekolah dasar menengah.

Apresiasi kedua adalah, terkait dengan mata pelajaran di program peminatan Ilmu-ilmu sosial, khususnya pada mata pelajaran Geografi. Bagi ku, geografi merupakan sebuah mata pelajaran yang begitu sangatlah istimewa. Kaya dan luasnya cakupan dari objek studi yang dipelajarinya membuat geografi menjadi sebuah disiplin ilmu yang dapat berkamuplase dengan baik diantara ilmu-ilmu sosial lainnya dan juga dapat melebur diantara kelompok ilmu-ilmu alam. Meski pada kenyataannya, para ahli pendidikan perumus kurikulum di negeri ini masih terlalu senang dengan menempatkan secara eksplisit geografi kedalam kelompok ilmu sosial.

Perlu diketahui, bahwa pada kurikulum 2013, geografi diberi hadiah berupa kenang-kenangan untuk memasukan dua topik “penelitian geografi dan mitigasi bencana” sebagai materi yang harus diajarkan di kelas dan ini terlihat sangatlah menarik.

Topik terkait penelitian geografi dan mitigasi bencana menjadi menu baru yang harus dilahap oleh pengajar kelas X peminatan IPS. Adanya penelitian geografi sama halnya dengan penelitian sosiologi yang lebih dahulu masuk sebagai materi ajar di kelas. Tapi, saya belum sempat melihat struktur materi ajar mata pelajaran lainnya, adakah topik yang sama (penelitian) untuk matematika, ekonomi, fisika?, yang meminta siswanya cakap didalam mengetahui fenomena keilmuan terkait, yang kemudian berusaha memahaminya dengan cara belajar membuat sebuah pertanyaan penelitian, dicarikan data-datanya yang terkait dengan fenomena tersebut, sehingga pada akhirnya dapat diolah dan siswa dapat belajar bagaimana cara menuangkan semua itu di dalam sebuah tulisan yang terstruktur sesuai dengan sistematika pelaporan hasil penelitian yang ada.

Perspektif saya adalah, dengan adanya penelitian geografi siswa diajak untuk aktif dengan cara ilmiah. Bagaimana menghidupkan suasana ilmiah di lingkungan pelajar siswa kelas X?!. Sementara diluar sana, terlalu banyak orang tua yang perhatian, khawatir terhadap apa yang sedang terjadi pada putra-putrinya. Mereka, seolah-olah terlihat melihat putra-putrinya karena banyaknya tugas sekolah yang harus dikerjakan. Ngeri ya!, putra-putrinya yang sekolah orang tuanya yang stress.

Perspektif lain, dapat berkembang dari seorang pengajar geografi di kelas. Secara kultural, mereka telah dibuat terlatih untuk membuat sebuah karya tulis ilmiah. Setidaknya satu kali, pada waktu hendak lulus dari kuliah sebagai sarjana pendidikan. Secara faktual adalah, menulis secara ilmiah bukanlah pekerjaan yang mudah. Mungkin karena ini, kenapa banyak mahasiswa sarjana yang lulusnya susah dan lama.

Guru?, di lingkungan sekolah pasti sedikit banyaknya terkaget-kaget ketika membaca isi dari kurikulum, harus mengajarkan penelitian geografi. Tertujulah seketika, mereka pada sebuah topik penelitian, latar belakang masalah, perumusan persoalan, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian yang mencakup (populasi dan sampel penelitian, lokasi penelitian, teknik sampling dan analisis data), cara mendeskripsikan hasil penelitian dan sampai pada bagaimana pembuatan sebuah kesimpulan dan saran. Lama sudah, tak bersentuhan dengan hal yang seperti itu.

Terlebih untuk penelitian geografi, untuk penelitian tindakan kelas (PTK) saja, jika dilihat dari perannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Sering sekali tidak dilakukan dan sering pula tidak dapat didokumentasikan dalam bentuk pelaporan. Sehingga, saat ini guru dan siswa menjadi sama-sama harus belajar bagaimana melakukan penelitian geografi itu.

Perspektif siswa, mereka akan lebih terlihat asyik. Karena adanya satu hal baru yang dapat me rasa ingin tahu yang begitu besar dari apa yang mereka lihat, rasakan dan dialami. Pertanyaan-pertanyaan mereka, tidak hanya muncul di dalam kelas, tetapi mereka akan coba tuliskan menjadi sebuah laporan. Harapan besarnya adalah di dalam diri siswa, terdapat satu kompetensi baru dan bernilai positif yaitu mampu membuat dokumentasi yang kemudian disajikan dalam bentuk tulisan dengan cara mendeskripsikan apa-apa yang mereka telah ketahui dari satu pertanyaan yang mereka buat sebelumnya.

Siswa diajak untuk kreatif. Ayo tuliskan semua yang kamu lihat, semua yang kamu rasakan, semua yang kamu alami dilingkungan sekolah dan dilingkungan dimana kamu tinggal. Tentunya semua hal yang terkait dengan kegeografian.

Terbayang, pada satu kesempatan disekolah. Seorang guru memberikan sebuah topik penelitian terkait dengan tumbuhan dan suhu lingkungan. Mereka para siswa :
1). Akan terlihat antusias dengan mulai membuat pertanyaan-pertanyaan penelitian. Seperti :
1. Bagaimana suhu udara di tempat terbuka seperti di lapangan terbuka?
2. Bagaimana penyebaran suhu tersebut jika disajikan dalam sebuah peta dan grafik?
2). Untuk datanya, mereka mulai memilih tempat yang berupa tanah lapang, sawah, rumah, gedung, kebun, jalan dan sebagainya.
3). Mereka mulai bereksperimen dengan termometer sebagai alat sederhana, yang dipakai untuk mengetahui suhu udara. Namun jika mungkin memakai alat pengukur radiasi matahari.
4). Hasilnya, mereka coba olah dan dibuatlah deskripsi singkat, padat dan jelas untuk menjelaskan apa yang mereka temui
5)Diakhir, mereka harus dapat menjelaskan apa-apa yang mereka temukan dengan cara mempresentasikan hasil tersebut di depan kelas.

Mantap, bagus dan satu proses pembelajaran yang begitu sangat berkesan. Begitu kaya pengalaman belajar yang bisa mereka dapat. Selamat berjuang, terus belajar selagi mampu, wahai kalian siswa-siswa penerus bangsa.

Iklan