Bandung-Pangandaran (Jalur 1000 jembatan dan akses bebas hambatan)

Kesempatan mudik (kegiatan pulang ke kampung halaman pada saat libur hati raya) 1431 H dari Bandung ke Pangandaran kali ini adalah sebuah cerita perjalanan yang berbeda. Berbeda dalam hal ini adalah terkait dengan moda transportasi, pemilihan rute/jalur mudik, lokasi dan periode istirahat, sampai pada pertimbangan titik-titik rawan macet yang pastinya tak boleh dilewati, karena dipastikan dapat mengganggu perjalanan.
Perjalanan pun dimulai pada pukul 10:00 dari Pangalengan Kabupaten Bandung dengan menggunakan Vega ZR 2009. Motor jadi pilihan moda transportasi karena dari titik ini, dapat dipastikan tidak ada angkutan yang dapat membawa ke terminal Cicaheum (kota Bandung) secara langsung, dimana satu satunya Bus jurusan Pangandaran biasa ditemui. Tetapi, harus 2-3 kali mengganti angkutan umum dengan lama waktu 2-4 jam. Dengan lama waktu tersebut, sudah terbayang bahwa pada pukul 14:00 baru sampai di Cicaheum tanpa sebuah kepastian akan dapat satu bus tanpa berdesakan dengan kursi yang nyaman. Karena pada musim mudik, tak ada bus yang kosong dan tak berdesakan.
Berdasarkan informasi dari beberapa rekan dan website, bahwa terdapat rute lain yang dapat jadi alternatif. Yaitu menggunakan rute Cisewu-Rancabuaya-Pameungpeuk. Dengan lama waktu tempuh yang dibutuhkan sama dengan rute awal, dapat dipastikan jika tidak ada hambatan berarti bisa sampai di Pameungpeuk pada pukul 17:00 lengkap dengan istirahat sholat makan (ISHOMA) selama 2 jam. Itu berarti harus memutuskan untuk bermalam di Pameungpeuk, (Kota kecil di Selatan Kabupaten Garut ini, merupakan pusat ekonomi, daerah tujuan wisata, maka untuk mencari wisma buat bermalam pun bukan perkara susah.)
Akhirnya rute ini pun akhirnya dipilih, dengan pertimbangan bahwa sepanjang perjalanan akan melewati jalur pegunungan selatan, dengan jalur jalan yang akan silih berganti naik dan turun dengan kemiringan 20-50%, perbedaan elevasi -+ 1100 mdpl (meter dibawah permukaan laut) dari titik awal (Pangalengan)sampai ke Pameungpeuk. Sebagai konsekuensinya, jadi harus pastikan bahwa kondisi rem depan sama belakang juga kinerja kopling masih bagus.
Ok akhirnya perjalanan panjang etape pertama (Pangalengan-Cukul-Cisewu-Rancabuaya-pameungpeuk) sejauh -+160 km pun dimulai tepat pada pukul 10:00. Kota Pangalengan,  di depan kantor KPBS (koperasi Peternak Bandung Selatan) jadi titik awal pemberangkatan, mengambil arah ke kiri mengikuti jalur jalan ke Situ Cileunca dan selepas itu perjalanan menyusuri jalanan aspal dipinggir jurang dengan lereng yang terjal berselimut hamparan perkebunan teh yang hijau menjadi teman diantara kehati-hatian, fokus berkendara, takut dan takjub untuk indahnya lukisan alam yang Sang Pencipta buat.
Perkebunan teh CUKUL pun dilewati, ditandai dengan adanya pabrik pengolahan teh dan salah satu rumah peninggalan seorang Jerman dengan arsitektur khas.
Laju motor pun dibawa untuk menuruni lereng bukit sejauh 500 m dengan kemiringan jalan 35% (Gambar 1) adalah hadiah pertama yang harus dilewati. Jalanan yang tidak terlalu ramai, dengan permukaan yang halus, aspal yang hitam, garis median jalan dan pembatas jalan yang masih terlihat putih serta lebar jalan yang semakin lama semakin berkurang akan terus menemani sampai tiba di Cisewu.

image
Gambar 1
image
Gambar 2
image
Gambar 3

Akhirnya tepat pada pukul 12:30 di atas aliran Ci Sewu waktu istirahat (ISHOMA) pun tiba sambil memperhatikan jalan yang menanjak dengan kemiringan 45% sejauh 200-400 meter. Istirahat dilokasi ini cukup lama -+ 45 menit, sudah termasuk sholat dan makan siang. Sambil ditemani sama pengendara lainnya, yang juga beristirahat hanya sekedar untuk mengumpulkan tenaga, sebelum menaiki tanjakan tersebut (Gambar 3). Pertama kali melihat tanjakan tersebut, perasaan kecut tiba-tiba muncul. Meskipun mungkin bukan yang pertama, tapi berupaya melewatinya dengan mengendarai motor adalah yang pertama. Padahal, tanjakan lainnya seperti Gentong di Tasikmalaya dan Emen di Subang, juga pernah dilewati tanpa masalah yang berarti. Atau mungkin, karena sebelumnya Vega ZR yang dipakai pernah ngadat tidak mau nanjak akibat terlambat mengganti posisi gigi, itu yang membuat nyali berkurang. Di lokasi ini, perasaan iri sempat muncul ketika melihat jernih dan bersihnya aliran air Ci Sewu yang mengalir diantara bebatuan beragam ukuran. Karena sudah pasti, kondisi ini tidak akan pernah dijumpai di Bandung. Hutan yang masih relatif lebat, lahan terbangun masih sedikit, sehingga daur air secara alamiah bisa berlangsung dengan baik.
Perjalanan pun dilanjutkan kembali, dengan perlahan menaiki tanjakan tersebut, sampai titik terdatar dan akhirnya sukses, Vega ZRnya baik-baik saja. Satu persatU kantor KORAMIL, POLSEK dan kelengkapan lainnya yang diperlukan sebuah daerah administratif setingkat Kecamatan sudah tersedia dengan baik. Artinya, tiba sudah di kecamatan Cisewu.
Tepat di ujung sebuah jalan yang menurun bercabang dua, terdapat penunjuk arah yang menunjukkan bahwa arah ke Kecamatan Rancabuaya adalah ke arah kanan dan Kecamatan Bungbulang ke arah kiri. Kemudi pun diarahkan ke kanan, melewati sebagian wilayah dari kecamatan Caringin yang ditandai dengan harumnya bunga cengkeh yang sedang dijemur. Vegetasi pun bergantian dari hutan, bambu, semak belukar, barisan pohon kelapa dan padang rumput yang mengering kekuningan menjadi pengawal sebelum tiba di Kecamatan Rancabuaya. Sampai pada satu titik bukit yang tertinggi, akan nampak di horizon segaris biru dengan buih sebagai tanda bahwa Samudera Hindia sudah dekat, artinya tiba sudah di kecamatan Rancabuaya. Masih di pesisir Rancabuaya tepat pada pukul 14:00, perut pun mulai terasa lapar lagi. Sebetulnya perjalanan bisa di lanjutkan ke arah kiri ke arah timur menuju Kecamatan Pameungpeuk, atau lurus ke arah selatan menuju pelabuhan dan lokasi wisata pantai Rancabuaya yang hanya berjarak 500 meter, tapi rasanya kemudi ingin dibawa ke arah barat atau ke arah kanan menuju Pantai Jayanti, dengan tujuan buat nyari makan siang menjelang sore, syukur-syukur dapat ikan bakar. Hanya 500 meter dari perempatan jalan ke arah barat,kedai penjual bakar ikan pun berhasil dijumpai. Namun sayang, kedai ini tidak sedang jualan dan menu pun berubah pada kedai Baso terenak di pantai ini.

image
Gambar 6
image
Gambar 5
image
Gambar 4
image
Gambar 7

Pada gambar 4,5 dan 6 di atas, adalah satu dari sekian banyak jembatan dengan panjang sama dengan atau bahkan melebihi panjang ukuran lapangan sepak bola yang terbentang diatas aliran sungai yang bermuara di pesisir selatan Jawa barat dari Rancabuaya ke arah Cipatujah di arah paling timur.
Sedikit memberikan sebuah analisa bahwa, di wilayah pesisir dengan muara sungai yang lebar, tidak lantas membuatnya mampu untuk menyimpan sedimentasi dalam jumlah yang banyak. Aliran sungai yang relatif lebih pendek, dengan pola tutupan lahan bervegetasi yang bervariasi dan cenderung acak namun memperlihatkan keteraturan, mungkin jadi penyebab rendahnya sedimentasi di ujung muara sungainya. Topografi perbukitan khas pesisir selatan, dengan ditutupi oleh rapatnya vegetasi berupa semak belukar dan diakhiri dengan pesawahan (Gambar 6 dan 7) juga merupakan faktor lain, kenapa air sungainya masih jernih terlepas dari musim kemarau yang sedang berlangsung. Disini, jernihnya air, sedikitnya pasir membuat bebatuan keras berbagai ukuran menjadi pilihan untuk ditambang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s