Bagaimana Potensi Wilayah di Manfaatkan? (Sudah bermanfaatkah atau seolah menabung kemudaratan?)

Penjelasan singkat terkait dengan bagaimana sebuah hubungan bisa terjadi, pada dua atau lebih daerah yang melibatkan semua komponen pembentuk daerah beserta sejumlah potensi dan produk yang telah dihasilkan oleh penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Penduduk sebagai agen penggerak tumbuhnya suatu daerah dari kondisi terisolasi, terbelakang, menjadi berkembang sampai tercipta satu kondisi yang berswasembada tercermin dari bagaimana potensinya bisa dimanfaatkan.
Pertanyaan awal adalah apakah yang dimaksud dengan potensi wilayah? Ok, potensi fisik berupa bentuk lahan seperti pegunungan, dataran tinggi, dataran rendah, pantai, suburnya tanah, keragaman flora-fauna, jumlah penduduk dan kekayaan bahan tambang adalah beberapa diantaranya. Potensi fisik itu pasti disertai dengan potensi non fisik seperti adat budaya masyarakat, perilaku ekonomi masyarakat, keterbukaan pada budaya luar, status pendidikan, keberpihakan kebijakan publik pemerintah dan lain sebagainya .
Selanjutnya, bagaimana potensi tersebut dimanfaatkan? Daerah pegunungan dengan hutan yang lebat, sungai yang aliran airnya deras adalah kawasan yang harus “untouchable” tidak boleh tersentuh oleh rekayasa dan pemanfaatan dalam bentuk apapun. Pada kenyataanya, hutan rusak, potensi turunannya seperti ekologis, potamologis dan orologis akan terganggu yang diikuti oleh rusaknya sumberdaya air.
Daerah berupa dataran tinggi dengan aktifitas ekonomi penduduk berupa perkebunan, ladang, tegalan dan peternakan adalah kegiatan yang bernilai dan terbukti dapat menunjukkan potensi daerah secara langsung. Sehingga muncul julukan bahwa daerah A itu terkenal dengan buah-buahannya, daerah B terkenal dengan domba dan produk kulitnya, daerah C terkenal dengan susu dan lain sebagainya.Namun mari kita simak bahwa sejauh mana kegiatan ekonomi tersebut dikelola secara baik, mengikuti kaidah-kaidah kelingkungan.
Perkebunan, ladang dan tegalan apakah dibuat di lereng yang terjal atau dengan kemiringan lereng > 25%, sehingga erosi pun meningkat dan juga tanaman yang dibudidayakan tidak ditanam sesuai garis kontur atau dibuat sengkedan yang sesuai garis kontur?.Jawabannya mungkin tidak demikian. Bagi sebagian besar petani, pemahaman akan erosi, sengkedan, sesuai garis kontur adalah hal yang tabu dan tidak layak konsumsi. Sifat awam mereka menjadi pembatas bahwa jadi petani pengelola kebun, ladang dan tegalan yang terpenting adalah hasil panen, berapa jumlah panen, dan berapa harga perkilonya sehingga musim tanam yang dijalani begitu sangat menguntungkan.
Sifat awam mereka membatasi bahwa erosi dan kawan-kawannya hanyalah konsumsi kaum-kaum terpelajar saja. Sehingga petani hanya berurusan pada hasil panen saja. Bagaimana dengan pemerintah?, di sini yang terpenting adalah melihat daerah pertaniannya berkembang dengan pasokan komoditi pertaniannya yang melimpah. Pemahaman kelingkungan?!, sama saja dengan petani, cenderung tidak paham dan akhirnya dilupakan.
Bagaimana dengan peternakan?. Sebagai contoh adalah sapi perah. Susu segarnya terlalu nikmat untuk ditinggalkan begitu saja disetiap kesempatan sarapan. Namun, urusan petani sapi perah ada pada bagaimana saya punya sapi, sapinya dapat pakan cukup, menghasilkan susu banyak dan harga susu stabil. Sehingga pada kenyataannya petani dan pemerintah berkolaborasi untuk memastikan keempat faktor tadi berjalan dengan baik. Maka jika pertanyaannya adalah bagaimana dengan tinja yang dihasilkan, (ya tinggal dibersihkan saja pakai air dan biarkan air membawanya kesungai sejauh dia mau sampai ke laut). Sampai hari ini, tidak ada edukasi untuk bagaimana cara mengelola tinja jadi manfaat, sehingga petani sapi jadi punya keahlian tambahan. Misalkan untuk energi dan pupuk. Disini peran pemerintah didalam mencerdaskan petani diuji. Sebagai bentuk perhatian demi keberlangsungan karirnya. Bagaimana kalau dibiarkan?, kita (para petani dan pemerintah) harus berempati pada penduduk lain disepanjang aliran sungai untuk dapat menikmati sungai tanpa erosi dan tinja sapi.