Pemanfaatan Penginderaan Jauh untuk Membedakan Tanaman Pepaya Sehat dan Tidak Sehat

Tulisan singkat ini membahas aplikasi penginderaan jauh dibidang pertanian yang dilakukan pada skala kecil oleh masyarakat perkotaan atau yang dikenal dengan urban farming.

Sistem penginderaan jauh yang digunakan pada artikel ini tidak menggunakan citra satelit atau foto udara sebagai data utama untuk menjelaskan “bagaimana memanfaatkan teknologi penginderaan jauh untuk pertanian”. Melainkan hanya menggunakan nilai pantulan (reflectance) objek berupa tanaman pepaya dari alat spectroradiometer. Sehingga yang dihasilkan adalah berupa pola spektral tanaman pepaya pada setiap saluran (band) spektrum elektromagnetik.

Objek yang digunakan berupa dua buah tanaman pepaya jenis Kalifornia (Carica papaya) dengan dua kondisi yang berbeda. Yaitu sehat dan diserang hama (sakit). Mungkin ada sebuah pertanyaan. Kenapa pepaya dan kenapa dikategorikan sebagai urban farming?  Jawaban dari pertanyaan itu adalah karena urban farming dilakukan oleh masyarakat urban yang dilihat dari ketersediaan lahan dan kepemilikannya yang sangat terbatas. Juga tanaman pepaya kalifornia ini dapat tumbuh di lahan yang tidak terlalu luas (1 x 2 meter untuk 1 pohon), berbuah cepat dan tinggi pohon tidak lebih dari 2 meter. Memungkinkan tanaman ini dapat dibudidayakan, menggantikan tanaman lain seperti cengek, tomat dan lain sebagainya (tanaman yang biasa tumbuh di pekarangan).

Awal tulisan ini bermula dari adanya dua pohon pepaya, yang satu kebetulan saya yang tanam dan satu lagi punya tetangga. Keduanya ditanam di lahan yang sama-sama sempit. Pohon pepaya punya saya, adalah pohon yang terkena hama kutu putih atau Paracoccus marginatus. Hama ini sangat senang tinggal di bawah daun, sekilas terlihat cantik dan pohon Pepayanya seperti telah dihujani salju dan lama kelamaan akan mengakibatkan pohon Pepayanya berdaun keriting, beberapa daunnya rontok, sukar untuk tumbuh pucuk baru dan proses pematangan buah akan berjalan sangat lambat. Gejala ini sudah diamati sekitar 2 bulan dan hasilnya dapat dilihat pada gambar. daun Pepayanya berubah jadi putih. Dari kondisi tersebut, jadilah sebagai sebuah topik pada artikel ini.

20170122_114344

Dari sudut pandang seorang pemerhati biologi tumbuhan, dapat dipahami bahwa tanaman mendapatkan asupan makanannya dengan jalan fotosintesis. Proses ini melibatkan radiasi sinar matahari, air dan klorofil yang ada pada daun tanaman. Beberapa artikel terkait hama tanaman, menjelaskan bahwa kutu putih atau Paracoccus marginatus merupakan parasit yang menyerap sari makanan dari pohon yang dijadikan tempat tinggal. Sebagai sebuah upaya perlindungan, parasit ini mempunyai lapisan lilin dan biasanya memanfaatkan semut merah untuk menjaganya dari predator, dan sebagai jasanya Paracoccus marginatus akan memberikan embun madu yang dihasilkan oleh kutu putih. Itu merupakan bentuk dari simbiosis mutualisme diantara kedua mahluk tersebut.

Dari sudut pandang penginderaan jauh, sangatlah mudah untuk membedakan tanaman sehat dan tanaman yang sakit. Secara kasat mata, tanaman yang sehat dengan yang sakit akan berbeda kenampakannya. Sederhananya, tanaman yang layu dapat dikatakan tanaman yang sakit. begitu juga tanaman yang berwarna hijau adalah tanaman yang sehat.

Tanaman sehat adalah tanaman yang dapat menyerap sinar matahari dalam jumlah banyak. klorofil pada daun tanaman yang sehat akan banyak menyerap sinar matahari untuk fotosintesis. Hal ini ditandai dengan tingginya nilai pantulan pada kanal infra merah dekat (Near Infrared) pada rentang panjang gelombang 690nm-810 nm. Jika kita perhatikan gambar di bawah ini, terdapat perbedaan yang sangat mencolok pada nilai reflektan kedua tanaman pepaya. Daun tanaman yang sehat, mampu untuk memantulkan gelombang NIR dua kali jumlah pantulan tanaman yang sakit.

remote-sensing-pepaya-2

Setelah melihat kondisi pohon pepaya yang saya punya dan membandingkannya dengan pohon sejenis yang kondisinya lebih sehat, kemudian memperhatikan bentuk, jumlah pantulan dari pola spektral yang dihasilkan dari spektroradiometer. Dapat disimpulkan bahwa benar terdapat hubungan (baik secara kualitatif dan kuantitatif) tanaman yang terkena hama dan yang tidak terkena hama, berdasarkan hasil pengamatan data penginderaan jauh.

Iklan

Lampeni dan nama sebuah kampung

Nama-nama tempat dipermukaan bumi, sering sekali menunjukan entitas geografi yang ada di sekitarnya. Apa yang menjadi ciri khas, biasanya muncul sebagai identitas yang digunakan untuk merepresentasikan tempat tersebut dikhalayak.
Seperti halnya, sebuah pohon yang bernama “Lampeni”. disebut juga “jet berry” atau para biologist menyebutnya Ardisia Humilis. Pohon Lampeni ini, pernah jadi inspirasi bagi penduduk terdahulu untuk menamai sebuah kampung yang sekarang dikenal dengan nama desa Cilampeni yang berada di kec. Katapang Kab. Bandung. Pohon yang daun serta buahnya dipercaya sebagai obat dari penyakit tumor, asma dan maag ini dapat juga dipakai sebagai tanaman hias di pekarangan rumah. Pohon yang ku dapat dari EIGER ini, ku dapat gratis setelah penjaga toko menawari “barangkali mau berpartisipasi dalam reboisasi?” akhirnya menghiasi pekarangan ku.

Lampeni
Daun Pohon Lampeni

Tempat-tempat lain yang menggunakan nama pohon sebagai nama tempat sebenarnya banyak. Khususnya di wilayah Jawa barat. Nama-nama seperti CiTarum, CiMareme diambil dari nama pohon. Contoh lainya seperti Sekeloa yang berarti mata air. Nama ini digunakan karena dulunya di tempat tersebut banyak terdapat mata air. Nama tersebut bertahan sampai sekarang. Meskipun hanya sebatas nama yang menjadi kenangan kondisi tempat tersebut beberapa waktu lalu.
Tulisan singkat ini, sedikitnya memberikan pemahaman bahwa ada sebuah cerita yang bisa diketahui dari nama tempat yang digunakan. Di dalamnya terdapat cerita masa lalu dari kehidupan masa lalu yang diawetkan dalam bentuk sebuah nama. Kini, tak banyak yang diketahui. Perubahan dipermukaan bumi tidak hanya memberikan kemajuan bagi kehidupan manusia tapi juga menghilangkan entitas yang seharusya dijaga.

Literasi lingkungan

Satu hubungan yang sangat dinamis antara manusia dan lingkungannya, dapat dilihat dari bagaimana cara mereka hidup bersama, berdampingan dengan semua komponen disekitarnya. Terlalu konseptual memang, padahal pada kenyataannya semua itu tidak demikian adanya. Kemampuan yang dimiliki setiap individu untuk berprilaku baik dalam kesehariannya, dengan menggunakan pemahamannya terhadap kondisi lingkungan itulah yang disebut dengan Literasi lingkungan atau environment literacy.
Literasi lingkungan bukanlah sebuah disiplin ilmu baru atau bahkan sebuah konsep baru dalam mengkaji hubungan manusia terhadap lingkungannya. Ini, merupakan pemikiran yang sederhana dan berangkat dari fisis determinisme, fisis possibilisme atau bahkan pandangan antroposentrisme. Fisis determinisme sendiri merupakan pandangan bahwa alam telah menyediakan semua yang dibutuhkan manusia untuk hidup dan manusia berusaha untuk sejalan dengan kondisi lingkungan yang ada. Dalam hal ini, manusia tidak mempenyai banyak alternatif untuk menentukan perannya terhadap lingkungan dimana dia tinggal. Lain halnya dengan fisis possibilisme. Manusia mempunyai begitu banyak kemungkinan, begitu banyak alternatif untuk meminimalisir kekurangan dari kondisi lingkungan yang ada. Dengan kata lain, manusia bisa berpikir dan berupaya keras bagaimana mengatasi keterbatasan yang alam sediakan.
Literasi lingkungan dapat berupa hal-hal kecil. Seperti :
1. Menyediakan 25% ruang terbuka bervegetasi di rumah. Kenapa demikian ?, dengan adanya lahan terbuka bervegetasi, berarti telah membiarkan air hujan bisa masuk meresap ke dalam tanah, telah memberikan kelangsungan dalam siklus gas terutama oksigen dan karbon dioksida dengan baik.
2. Menyediakan pentilasi yang cukup. Kenapa demikian?, dengan adanya pentilasi, berarti selain terjadi siklus gas terutama oksigen dan karbon dioksida dengan baik. Dan mencegah rumah menjadi tempat yang kumuh dan lembab.
3. Membiarkan cahaya matahari masuk di pagi dan siang hari. Kenapa demikian?, Cahaya matahari berfungsi untuk membunuh bakteri jahat di rumah. Dan rumah jadi gak kumuh tentunya.
4. Mendirikan rumah di tempat yang landai. Kenapa demikian? Pemilik rumah, bisa terhindar dari resiko longsor jika rumahnya dibangun di tempat dengan lereng yang terjal atau miring.
5. Rumah berWC itu sangat lebih baik.

Biodiversity di kaki Gunung Salak

Perjalanan panjang seorang Alfred Wallacea dimasa hidupnya (8 January 1823 – 7 November 1913) meninggalkan sebuah warisan berharga pada perkembangan ilmu pengetahuan. Diantaranya membagi Indonesia ke dalam dua bagian besar persebaran Flora dan Fauna. Perkembangan zaman pada saat itu belum memungkinkan beliau untuk mengcapture apa yang ditemukan menggunakan camera. Tidak seperti apa yang saya lakukan beberapa hari lalu bersama rekan-rekan Garuda Muda penerima Beasiswa LPDP_batch-1 dan Fujifilm Finefix S2980. Berkesempatan trip singkat menuju Kawah Ratu di kaki gunung Salak, desa Pasir reugit yang termasuk kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Begitu banyak keragaman Flora dijumpai dan diantaranya merupakan yang pertama kali ku lihat. Tetapi, mungkin terasa tidak asing bagi para biologist. Namun bagiku ini adalah satu hal yang baru. Berikut diantaranya :

1. Paku-pakuan

Paku
Paku

dan

Pucuk daun paku tiang
Pucuk daun paku tiang

2. Bunga

Bunga liar
Bunga liar

3. Perdu

Bunga Hijau (bukan nama sebenarnya)
Bunga Hijau (bukan nama sebenarnya)

4. Kantung semar

Kantung Semar.
Kantung Semar.

Tumbuhan ini dikenal juga dengan Tropical pitcher plant dan tergolong ke dalam Genus Nepenthes. Tumbuhan ini banyak tersebar di wilayah beriklim tropis. meskipun demikian, persebarannya bisa mencapai Australia dan India. Dengan tinggi bisa mencapai 15-20 m. sama seperti rotan yang atau keluarga liana, tanaman ini beradaptasi dengan cara memanjat tanaman lainnya, walaupun ada beberapa spesies yang tidak memanjat. Bentuknya yang unik yaitu pada ujung daun terdapat sulur yang dapat termodifikasi membentuk kantong yang berfungsi sebagai perangkap yang digunakan untuk memakan mangsanya (misalnya serangga, pacet, anak kodok) yang masuk ke dalam.

5. Pandan

Pandan Gunung
Pandan Gunung

Ada yang unik di Alun-alun

Pernah gak coba perhatiin keadaan di sekitar Alun-alun dimana kamu tinggal? Atau pas lagi jalan-jalan ke satu tempat dan kebetulan lewat ke alun-alunnya. Jawabannya pasti pernah. kalau yang bukan hanya sekedar jalan-jalan, akan bertanya “kenapa di alun-alun itu selalu ada tanah lapangnya, pohon beringin, ada jalan yang bernama jalan kaum yang letaknya tepat di belakang masjid besar dan tak jauh dari lapang, ada pasar, terminal, rumah sakit dan sebagainya?”. Bahkan yang tak kalah uniknya, dibeberapa daerah ada satu kampung yang namanya “kampung babakan”. Tapi pertanyaannya kenapa bisa demikian ya? Apakah semua alun-alun seperti itu kondisinya? Sebagai perbandingan, yuk kita lihat beberapa alun-alun yang ada di jawa barat.

1. Alun-alun Bandung.
Nah kita mulai dari alun-alun ibu kota provinsi Jawa Barat. Tepatnya alun-alun kota Bandung. Kebetulan alun-alun ini berada relatif di tengah kota, maka dapat dipastikan semua orang akan mudah mengaksesnya. Untuk mempermudah interpretasi, digunakan citra dari google maps dari tiap alun-alun yang hendak di bandingkan agar lebih cepat dan efisien.

Sumber : Google maps 2012

Dari hasil interpretasinya, ada empat unsur utama. pertama ada lapangan. Kedua, ada masjid besar yang tepat berada di samping kiri lapang dan yang ketiga ada kompleks pendopo serta jalan Dalem kaum di sebelah selatan Masjid. Terus kalau pohon beringin sama kampung yang bernama Babakannya mana?. Pemukiman di sekitar Alun-alun dengan nama Babakan, terletak agak jauh tersebar kesegala penjuru kota Bandung, seperti Babakan Surabaya, Babakan Ciamis dan lain sebagainya. Nah kalo pohon beringinnya? Sudah hilang bersamaan dengan di renovasinya lapangan menjadi taman dan masjid yang lama menjadi masjid yang ada sekarang. Coba cek deh buku “Bandung Tempo Doeloe”…
Kondisi saat ini, alun-alun kota Bandung menjadi tempat yang sangat ramai dan juga merupakan pusat bisnis (central business district) juga. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa pusat perbelanjaan dan pusat jasa lainnya yang berada disekitar alun-alun kota Bandung. Sebut saja Palaguna, Kings, Kantor pos besar, dan yang tidak boleh dilupakan adalah alun-alun kota Bandung juga merangkap sebagai terminal atau pangkalan Damri trayek Alun-alun-Ciburuy (Kabupaten Bandung barat). Jalan Dalem kaum pun sekarang menjadi salah satu jalan terpadat dan termacet. Selain dari pada itu, jalan ini berfungsi ganda selain untuk kendaraan juga untuk pedagang kaki lima.

2. Alun-alun Ujungberung
Setelah kita lihat kondisi alun-alun kota Bandung, berikutnya adalah alun-alun Ujungberung di sebelang timur kota Bandung. Alun-alun ini dapat dengan mudah di lihat karena sering dilalui kendaraan umum antar kota. Masih menggunakan image dari google maps.

Sumber : Google maps 2012

Dari image di atas, kebetulan udah ditandain, dapat di ketahui :
A. Pasar
B. Bank BRI
C. Masjid besar ujung berung
D. Terminal angkutan kota Ujung berung-Ciwastra
E. Kompleks biaga dan mantan bioskop Astor
F. Lapangan alun-alun
G. Rumah sakit
H. Kompleks kantor kecamatan ujung berung, SMP N 8 Bandung, kantor pos dan tak ketinggalan jalan kaum di sebelah utara masjid besar Ujung berung

Coba perhatikan komposisi yang ada di Alun-alun Ujungberung dengan Alun-alun Bandung?. Keduanya memperlihatkan kesamaan, Seperti halnya, alun-alun sebagai pendukung kehidupan beragama. Maka dibangunlah masjid sebagai sarananya. Alun-alun sebagai pusat niaga, maka berdirilah pasar, kompleks pertokoan dan lain sebagainya. Juga fungsi-fungsi lainnya seperti pemerintahan, maka ada pendopo, keraton (kasus di alun-alun Jogjakarta), kantor kecamatan dan upacara atau pertunjukkan kesenian yang diselenggarakan di lapangan.
kedua alun-alun tersebut berkembang dengan sendirinya, menampakkan ciri dan fungsi sosial budaya masyarakatanya. Kenapa demikian? Karena pada awalnya Alun-alun diharapkan menjadi satu tempat yang sentral, dimana banyak orang dari berbagai kalangan dapat berkumpul dan beraktifitas di tempat tersebut.

3. Alun-alun kecamatan Ciparay kabupaten Bandung
kecamatan Ciparay merupakan yang terakhir yang dijadikan sampel. Komposisi pada alun-alun kecamatan Ciparay sama seperti komposisi dua alun-alun sebelumnya. Terdapat lapangan utama, masjid, pasar, kantor kecamatan dan polisi serta fasilitas umum lainnya. Yang menjadi pembeda adalah lapangan di alun-alun kec. Ciparay berfungsi sebagai pasar dan terminal angkutan umum pada siang hari dan berubah menjadi stand pedagang kaki lima pada malam hari. Lebih jelasnya disajikan pada citra berikut.

Sumber : Google maps 2012

A. Pasar
B. Bank BRI
C. Masjid besar Ciparay
D. Terminal angkutan kota CIparay-Tegalega
E. Kompleks kecamatan ciparay
F. Lapangan alun-alun
G. Kantor POLSEK
H. Kantor Pegadaian
I. Satu pohon beringin kecil di kompleks kecamatan

Tiga bentuk pola alun-alun kecamatan sudah disajikan. Semua memperlihatkan bentuk pola yang hampir sama antara satu dan yang lainnya. Tapi sebenarnya alun-alun itu apa? Apa fungsi sebenarnya? Apakah alun-alun di set sebagai satu tempat yang paling ramai dibandingkan dengan tempat lainnya yang berada disekelilingnya? Kenapa semrawut? Berikut penjelasan singkatnya.
Alun-alun merupakan suatu lapangan terbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan dan dapat digunakan kegiatan masyarakat yang beragam.di buat oleh fatahillah, Menurut Van Romondt (Haryoto, 1986:386). biasa digunakan yang dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat sehari-hari dalam ikwal pemerintahan militer, perdagangan, kerajinan dan pendidikan. Alun-alun bukan hanya sekedar lapangan terbuka yang luas, tetapi ditandai juga dengan adanya bangunan-bangunan yang utama yang mempunyai fungsi tertentu. Hal tersebut dibuktikan oleh ketiga sampel yang telah disajikan sebelumnya.
Pada awal terbentuknya, alun-alun berfungsi yang beragam tidak seperti yang nampak sekarang. Perkembangannya dipengaruhi oleh budaya masyarakatnya yang meliputi tata nilai, pemerintahan, kepercayaan, perekonomian dan lain-lain (wikipedia). Sebagai contoh adalah adanya fungsi sosial budaya yang dapat dilihat dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain, apakah dalam perdagangan (dengan adanya Pasar), pertunjukan hiburan ataupun olah raga (Lapangan yang luas). Mungkin ini sebagai kebetulan, kenapa terdapat Masjid?. Masuk dan berkembangnya Islam dan sasmpai menjadi yang dominan menjadi penyebabnya.
Letak yang relatif berada di tengah, memungkinkan semua penduduk dapat mengakses dengan sangat mudah. Adanya kemungkinan konsentrasi penduduk dalam jumlah banyak, hal itu direspon dengan hadirnya berbagai alat, bangunan, dan jasa yang bisa membantu terpenuhinya kebutuhan penduduk tersebut. Apa itu yang membuat Alun-alun menjadi semrawut, akrab dengan macet?

Jalan-jalan ka Baleendah

Siapa yang tidak kenal dengan Baleendah? Begitu pertama kali disebutkan nama ini, pasti semua orang tertuju pada “Banjir di Kampung Cieunteng juga Andir”. Ya, Banjir seolah-olah menjadi trademark yang khusus untuk mengambarkan dan mewakili tempat yang satu ini. Kalau dilihat dari tinjauan sejarah, Baleendah merupakan satu tempat yang telah orientasikan sebagai Ibukota Kabupaten Bandung. Gara-gara banjir tersebut, orientasi indah tersebut tidak seindah nama Baleendah dan Ibukota pun pindah ke tempat yang relatif aman yaitu Soreang. Namun, apakah hanya banjir saja yang bisa menjadi kenangan ketika kita menyebutkan nama Baleendah? Tentu tidak dan jangan seperti itu. Tidak adil rasanya, jika hanya melihat satu tempat dari satu sisi saja. Sebetulnya, ada banyak yang dapat dilihat ketika melewati Baleendah.
Baleendah sendiri merupakan kecamatan di Kabupaten Bandung, yang berbatasan dengan Kec. Ciparay di timur, Kec. Bojong soang di Utara, Kec. Pameungpeuk di barat dan Kec. Arjasari dan Banjaran di selatan. Terdapat 4 kelurahan (Jelekong, Manggahang, Baleendah dan Andir) serta 7 desa (Bojongmanggu, Langonsari, Sukasari, Malakasari, Bojongmalaka, Rancamulya dan Rancamanyar). Jadi apa yang bisa dilihat?diantaranya ada objek fisik alamiah, sejarah dan sosial budaya.

1. Curug Cangkring
Curug Cangkring yang terletak di kampung Cilayung, kelurahan Jelekong Kecamatan Baleendah. Akses menuju curug ini hanya 15 menit perjalanan dari alun-alun Ciparay, dengan menggunakan angkutan kota mengikuti jalan Laswi ke arah kota Bandung. Sampai di pangkalan Ojek SMP PGRI Baleendah, terus berjalan sejauh ± 1,5 Km dengan jalan aspal yang tidak terlalu bagus ke arah selatan, melewati bekas penambangan batu, TPA Jelekong, ladang singkong milik warga. Curug cangkring masih jauh, tapi terdapat view yang sungguh menarik. Pandangan ke arah utara, tepat dimana kota Bandung berada. Nampak terlihat kelokan Ci tarum, seolah saya sedang berdiri di atas bukit batas danau Bandung sebelah selatan.

Jangan membandingkan curug Cangkring ini dengan curug lainnya seperti maribaya, curug dago yang sudah terkenal duluan. Curugnya masih tersembunyi, karena masih harus menuruni bukit yang lumayan terjal sejauh ± 30 m. Mengikuti jalan setapak dan suara gemercik air yang sangat jelas terdengar ditengah kesunyian alam pedesaan.
Curug setinggi ± 25 m, berada pada ketinggian ± 800-900 mdpl dengan debit air yang cukup deras mengalir di atas hamparan andesit yang nampak kehitaman. Curug yang mempunyai empat teras ini nampak indah di antara rimbunnya pohon aren, bambu dan beberapa jenis pohon semak lainnya. Tak ada satupun sampah yang berserakan, kecuali dedaunan yang jatuh ke tanah, membuat curug ini masih terlihat alami dan masih terjaga sangat baik.

2. Situ Sipatahunan
Situ atau dikenal juga dengan danau (Indo,red), merupakan satu bentukkan alam berupa cekungan/basin yang relatif luas dan dapat menampung air dalam jumlah banyak baik dari aliran sungai ataupun dari air hujan. Lokasi Situ Sipatahunan ada di 07O 00’30” LS – 07 O 01’00” LS dan 107O 37’30” BT – 107O 38’00” BT pada ketinggian ± 700 mdpl. Termasuk wilayah kelurahan Baleendah Kec. Baleendah kab. Bandung. Tidak jauh dari tugu Kujang, hanya ± 1 km ke arah timur, situ ini dapat diakses dengan sangat mudah.

Meski tidak begitu dikenal seperti halnya situ Cileunca, situ Patengan dan situ Ciburuy. Situ Sipatahunan ini mempunyai kualitas air yang baik dan berperan penting bagi keseimbangan lingkungan dan daya dukung terhadap kehidupan penduduk di sekitarnya dan dimanfaatkan untuk keperluan air baku, air minum dan irigasi pesawahan. Sekilas ketika melihat situ ini, bisa disimpulkan bahwa “situ dengan keadaan yang baik perlu dipertahankan dan perlu dilestarikan. Keberadaan situ akan terasa sangat penting ketika persediaan air pada saat kemarau menipis.” Alaminya, situ merupakan satu cara alam untuk melaksanakan konservasi sumberdaya air, beda dengan pembuatan DAM/Waduk. Keberadaan situ Sipatahunan ini perlu dijaga dan tetap dipelihara kelestarian serta keseimbangan ekosistem didalamnya. Jangan sampai, situ Sipatahunan ini menjadi situ berikutnya yang akan hilang dan hanya akan meninggalkan nama seiring dengan berjalannya pembangunan daerah.

3. Taman Batu (Pasir paros)
Pasir paros adalah nama sebuah kampung di kelurahan Baleendah yang berada dekat dengan kompleks rumah sakit Al-Ihsan. Sebetulnya, taman batu ini bukanlah taman batu yang terbentuk secara alamiah dari hasil erosi dan sebagainya.tidak seperti taman batu yang ada di puncak pasir pawon di kawasan karst Citatah. Melainkan, lahan bekas penambangan batu yang dibuka pertama kali ketika untuk keperluan kompleks pemerintahan kabupaten Bandung yang sekarang jadi kompleks rumah sakit Al-Ihsan. Begitu informasi yang didapat dari salah seorang warga.

Lahan bekas penambangan batu yang sudah lama ditinggalkan, perlahan mulai menunjukkan hasil recovery. Bekas penambangan mulai tertutupi oleh hijaunya rumput dan terkadang jadi tempat pengembalaan kambing. Selain itu terdapat pula beberapa lubang bekas penambangan yang dimanfaatkan sebagai tempat penampungan air baku dan kolam ikan.
Hanya sebatas taman batu, apa indahnya?sekilas memang tidak seistimewa tempat yang lainnya. Paling tidak, disini punya potensi untuk dijadikan salah satu lokasi untuk kegiatan fotografi dan sebagai media pembelajaran yang murah untuk menunjukkan bahwa “alam memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia”, dan lain sebagainya.

4. Monumen Perjuangan 45 (Tugu kujang)
Ini saatnya untuk belajar sejarah lokal yang tidak didapat di bangku sekolah selama apapun belajar disana. Tidak jauh dari situ Sipatahunan, tepat di perempatan jalan Laswi dengan jalan pasir paros akan nampak bangunan setinggi ± 25 meter berwarna putih dengan ornamen Kujang di puncaknya yang menghadap ke utara. Ya, bangunan itu adalah sebuah monumen perjuangan 45 yang di bangun untuk memperingati perlawanan pejuang lokal dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Warga sekitar menyebutnya dengan sebutan “Tugu kujang”. Bangunan yang diresmikan pada 20 Mei 1975 ini, bertepatan dengan hari kebangkitan nasional ke- 67. Di monumen ini, terdapat sejumlah reilef yang dibuat di dinding. Isinya menceritakan banyak kisah yang terjadi pada masa itu. Namun sayang, tidak ada yang bisa dijadikan informasi

tambahan selain tanggal peresmian dan relief yang menempel di dinding. Karena tidak ada petugas yang bisa dijadikan referensi atau sekedar menjelaskan tentang relief itu. Tugu ini sekarang hanya sebatas bangunan yang hanya nampak gagah terlihat, penuh dengan sampah dan berbagai coretan pengunjung yang belum bisa memaknai keberadaannya dan ramai dikunjungi pada hari minggu saja.

5. Kawasan Seni Jelekong
Siapa yang tidak kenal wayang golek? Pasti semua orang yang tinggal di Bandung dan Jawa barat pada umumnya tahu. Wayang golek adalah salah satu kesenian asli Jawa barat. Jelekong adalah salah satu tempat berkembangnya kesenian ini. selain wayang golek, terdapat pula lukisan, komunitas domba adu dan tentunya kuliner khas seperti kacang tanah dan jagung rebus, semangka yang dijual di pinggir Jalan Laswi.

6. Pasar kaget
Sama halnya dengan pasar dadakan di kawasan GASIBU pada hari minggu. Di kawasan monumen perjuangan 45 dan rumah sakit al ihsan pun berubah menjadi tempat berkumpulnya masyarakat Baleendah dan sekitarnya. Mengisi waktu di minggu pagi, dengan berjualan, olahraga atau hanya sekedar sarapan saja. Pasar ini hanya ada di hari minggu sampai jam 12-an saja.
Keenam objek tadi, memang bukan tempat wisata yang ekslusif yang didukung oleh sarana pendukung lainnya. Tapi, hanyalah objek wisata yang menawarkan sesuatu yang sederhana, namun bernilai pendidikan dan yang pastinya keenam objek tersebut mempunyai ketertarikan (what to see) dan dapat dikunjungi (how to stay). Secara kebetulan, keenam objek tersebut terletak pada satu garis lurus dari mulai Jelekong samping ke pertigaan POM Bensin Rencong.

Pesona Curug Cangkring

Di kabupaten Bandung telah ditetapkan beberapa daerah sebagai tujuan wisata. Satu diantaranya adalah curug Cangkring yang terletak di kampung Cilayung, desa/kelurahan Jelekong Kecamatan Baleendah.

Rasa penasaran muncul, ketika tahu tempat tersebut dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Dalam pandangan saya, sebuah daerah tujuan wisata adalah daerah yang harus mempunyai ketertarikan (what to see) dan dapat dikunjungi (how to stay). Pastinya tempat tersebut mempunyai sebuah keindahan. Tahu bahwa tempat itu tidaklah terlalu jauh, saya coba untuk datang dan melihat bagaimana kondisi dari curug Cangkring tersebut. Hanya 15 menit perjalanan dari alun-alun Ciparay, dengan menggunakan angkutan kota mengikuti jalan Laswi ke arah kota Bandung. Sampai di pangkalan Ojek SMP PGRI Baleendah, terus berjalan sejauh ± 1,5 Km dengan jalan aspal yang tidak terlalu bagus ke arah selatan, melewati bekas penambangan batu, TPA Jelekong dan sampailah di kawasan perbukitan yang penuh dengan ladang singkong milik warga. Belum sampai di curug Cangkring, saya sudah disuguhi view yang sungguh menarik. Pandangan ke arah utara, tepat dimana kota Bandung berada. Nampak terlihat kelokan Ci tarum, seolah saya sedang berdiri di atas bukit batas danau Bandung sebelah selatan.

Sejenak terbayang dalam benak saya, curug yang akan saya lihat, mungkinkah seindah curug maribaya, curug dago atau curug-curug lainnya. Curug yang biasanya mempunyai aliran air yang sangat deras, dengan gemuruhnya yang sangat keras dapat memecah kesunyian dari rindangnya pepohonan hutan.

Ya, curugnya masih tersembunyi. Karena saya harus menuruni bukit yang lumayan terjal sejauh ± 30 m. Mengikuti jalan setapak dan suara gemercik air yang sangat jelas terdengar ditengah kesunyian alam pedesaan.

Benar saja!!, saya sampai di curug Cangkring. Namun tidak seperti yang saya harapkan. Curug setinggi ± 25 m, yang mengalir di atas hamparan andesit, dengan empat teras. Kini yang nampak hanya hamparan teras batu saja dengan gemericik air yang tak begitu deras. Jika saja ini adalah musim hujan, pastilah Curug cangkring ini sangatlah indah!.

Curug yang berada pada ketinggian ± 800-900 mdpl, kondisi curugnya masih sangat baik, masih terlindungi oleh rimbunnya pohon aren, bambu dan beberapa jenis pohon semak lainnya Tak ada satupun sampah yang berserakan, kecuali dedaunan yang jatuh ke tanah. Curug cangkring ini letaknya cukup jauh dari keramaian, membuat curug ini masih terlihat alami. Tapi entah bagaimana jadinya jika curug ini ramai dikunjungi dan memang benar jadi salah satu tujuan wisata?.

Curug cangkring punya keindahan, walaupun bukan primadona. Karena itu yang bisa dilihat. Curug tersebut bisa dikunjungi dengan cukup mudah, walaupun tidak ada fasilitas yang bisa di dapat layaknya tempat wisata lain. Seperti halnya tempat parkir dan toilet. Disana hanya ada warung kecil yang menyediakan kebutuhan warga sehari-hari saja.

Setelah saya datang ke curug cangkring, saya berfikir bahwa ” curug ini hanya untuk para penikmat alam saja. Bukan untuk para wisatawan yang haus untuk menikmati dan semangat untuk merusaknya.

“LIO” DIATAS RAPUHNYA TANAH CITARUM (1)

Perjalanan yang singkat ini diawali dengan menyusuri jalan Toha Ramdhan, jalan aspal yang berada tepat di samping pom bensin Ciparay. Jalan tersebut merupakan jalan alternatif yang sering digunakan penduduk yang hendak pergi ke kota Bandung via Ciwastra / Gedebage. Terus menyusuri hijaunya pesawahan yang baru ditanami kembali beberapa bulan sebelumnya. Tibalah disebuah kampong yang bernama “Parigi”. Dikampung inilah semua cerita bermula.

Tepat di atas jembatan yang dibawahnya mengalir sungai Ci Rasea. Salah satu anak sungai yang bermuara di sungai Ci Tarum di Kampung sapan. Memperhatikan kondisi aliran Ci Rasea,dengan aliran yang cukup tenang, debit air yang relative kecil, karena memang saat ini sudah mulai memasuki musim kemarau. Yang saya dapatkan dengan menyusuri sebagian aliran Ci Raesa, ternyata rindangnya greenbelt berupa bamboo yang tumbuh di sepanjang aliran Ci Rasea, tidak dapat melindungi tebing sungai dari gerusan air ketika debit air sungai meningkat. setelah mengetahui keadaan tersebut, rasa penasaran saya bertambah, untuk lebih tahu ada apa di hilir sana?!.

Seperti yang telah di sampaikan sebelumnya, bahwa aliran Ci Rasea bermuara di Ci Tarum. Dengan mengikuti jalan setengah aspal yang menghubungkan kampong Parigi dengan aliran Ci Tarum. Tibalah saya di pertemuan aliran Ci Rasea dengan Ci tarum. Aliran sungai yang cukup tenang, dengan debit air yang tidak terlalu deras, berwarna coklat kehitaman menjadi ciri khas aliran sungai hari itu. Mata saya tertuju pada sebuah bangunan non permanen yang terbuat dari bamboo beratapkan terpal plastic transparan.  Masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah “Lio”. Lio ini merupakan tempat pembuatan batu-bata. Sepanjang saya berjalan menyusuri Ci Tarum, terhitung lebih dari 20 Lio yang ada.

Beberapa pertanyaan pun muncul seketika, setelah saya melihat begitu banyaknya lio, adalah : “Kenapa di sepanjang aliran Ci Tarum banyak terdapat Lio?”, “Kenapa harus di dekat sungai?”, dan seberapa pentingkah keberadaan Lio bagi masyarakat sekitar sungai?”.

Keberadaan Lio sepanjang aliran Ci Tarum, sangatlah beralasan mengingat banyaknya material tanah yang terbawa bersamaan dengan aliran sungai, yang kemudian mengendap dengan kandungan lempung yang sangat tinggi. Endapan tanah yang berada di tebing-tebing sungai, terendapkan dalam waktu yang sangat lama, kemudian ditambang secara sembarangan oleh masyarakat. Kegiatan penambangan tersebut menyisakan lubang persegi yang menganga dan membuat sungai menjadi semakin lebar.